Sulawesi Tengah
Merupakan Provinsi yang terletak ditengah Pulau Sulawesi. Letak Astronomis
Provinsi ini adalah 20o22' LU dan 3o48' LS, serta 119o22' BT dan
124o22' BT. Secara Geografis Provinsi ini berbatasan dengan Provinsi
Gorontalo dan Laut Sulawesi di Utara, Selat Makassar disebelah barat, Provinsi
Sulawesi Tenggara, Provinsi Sulawesi Selatan dan Teluk Tolo di sebelah selatan
serta Teluk Tomini dan Kepulauan Maluku disebelah timur.
Luas Wilayah provinsi ini berkisar 61.841,29 km² dan jumlah penduduknya adalah 2.831.283 jiwa pada tahun 2014. Sulawesi Tengah tercatat sebagai Provinsi terbesar di Pulau Sulawesi dan Jumlah Penduduk terbanyak kedua setelah Sulawesi Selatan. Ibukota Sulawesi Tengah terletak di Palu.
Luas Wilayah provinsi ini berkisar 61.841,29 km² dan jumlah penduduknya adalah 2.831.283 jiwa pada tahun 2014. Sulawesi Tengah tercatat sebagai Provinsi terbesar di Pulau Sulawesi dan Jumlah Penduduk terbanyak kedua setelah Sulawesi Selatan. Ibukota Sulawesi Tengah terletak di Palu.
Sulawesi Tengah Mempunyai 12 Kabupaten dan 1
Kota, yaitu :
- Kota Palu
- Kabupeten Donggala
- Kabupaten Sigi
- Kabupaten Parigi-Moutong
- Kabupaten Buol
- Kabupaten Toli-Toli
- Kabupaten Poso
- Kabupaten Tojo Una-Una
- Kabupaten Banggai
- Kabupaten Banggai Kepulauan
- Kabupaten Banggai Laut
- Kabupaten Morowali
- Morowali Utara
Sejarah
Zaman Kerajaan
Wilayah
provinsi Sulawesi Tengah sebelum jatuh ke tangan Pemerintahan Hindia Belanda merupakan sebuah Pemerintahan Kerajaan yang terdiri atas 15
kerajaan di bawah kepemimpinan para raja yang selanjutnya dalam sejarah
Sulawesi Tengah dikenal dengan julukan Tujuh Kerajaan di Timur dan Delapan
Kerajaan di Barat.
Zaman Kolonialisme
Semenjak
tahun 1905,
wilayah Sulawesi Tengah seluruhnya jatuh ke tangan Pemerintahan Hindia Belanda,
dari Tujuh Kerajaan di Timur dan Delapan Kerajaan di Barat, kemudian oleh
Pemerintah Hindia Belanda dijadikan Landschap-landschap atau Pusat-pusat
Pemerintahan Hindia Belanda yang meliputi, antara lain:
- Poso Lage di Poso
- Lore di Wanga, Lore Utara, Poso
- Tojo di Ampana
- Una-Una di Pulau Una-Una
- Bungku di Bungku
- Mori di Kolonedale
- Banggai di Luwuk
- Parigi di Parigi
- Moutong di Tinombo
- Tawaeli di Tawaeli
- Banawa di Donggala
- Palu di Palu
- Sigi / Dolo di Biromaru
- Kulawi di Kulawi
- Tolitoli di Tolitoli
Zaman Kemerdekaan
Dalam
perkembangannya, ketika Pemerintahan Hindia Belanda jatuh dan sudah tidak
berkuasa lagi di Sulawesi Tengah serta seluruh Indonesia,
Pemerintah Pusat kemudian membagi wilayah Sulawesi Tengah menjadi 3 (tiga) bagian,
yakni:
Sulawesi Tengah bagian Barat,
meliputi wilayah Kabupaten Poso, Kabupaten Banggai
dan Kabupaten Buol
Tolitoli.
Pembagian wilayah ini didasarkan pada Undang-undang Nomor 29 Tahun 1959,
tentang pembentukan Daerah-daerah Tingkat II di Sulawesi.
Sulawesi Tengah bagian Tengah
(Teluk Tomini), masuk Wilayah Karesidenan Sulawesi
Utara di Manado. Pada tahun 1919, seluruh Wilayah
Sulawesi Tengah masuk Wilayah Karesidenen Sulawesi Utara di Manado. Pada
tahun 1940,
Sulawesi Tengah dibagi menjadi 2 Afdeeling yaitu Afdeeling Donggala yang
meliputi Tujuh Onder Afdeeling dan Lima Belas Swapraja.
Sulawesi Tengah bagian Timur (Teluk Tolo) masuk Wilayah Karesedenan Sulawesi Timur Bau-bau.
Sulawesi Tengah bagian Timur (Teluk Tolo) masuk Wilayah Karesedenan Sulawesi Timur Bau-bau.
Tahun
1964 dengan
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 2 Tahun 1964 terbentuklah
Daerah Tingkat I Sulawesi Tengah yang meliputi empat kabupaten yaitu Kabupaten Donggala,
Kabupaten Poso,
Kabupaten Banggai
dan Kabupaten Buol
Tolitoli.
Selanjutnya Pemerintah Pusat menetapkan Provinsi Sulawesi Tengah sebagai
Provinsi yang otonom berdiri sendiri yang ditetapkan dengan Undang-undang Nomor
13 Tahun 1964 tentang Pembentukan Provinsi Daerah Tingkat I Sulawesi Tengah dan
selanjutnya tanggal pembentukan tersebut diperingati sebagai Hari Lahirnya
Provinsi Sulawesi Tengah.
Zaman Reformasi
Dengan
perkembangan Sistem Pemerintahan dan tutunan Masyarakat dalam era Reformasi
yang menginginkan adanya pemekaran Wilayah menjadi Kabupaten, maka Pemerintah
Pusat mengeluarkan kebijakan melalui Undang-undang Nomor 11 tahun 2000 tentang
perubahan atas Undang-undang Nomor 51 Tahun 1999 tentang pembentukan Kabupaten
Buol, Morowali dan Banggai Kepulauan. Kemudian melalui Undang-undang Nomor 10
Tahun 2002 oleh Pemerintah Pusat terbentuk lagi 2 Kabupaten baru di Provinsi
Sulawesi Tengah yakni Kabupaten Parigi
Moutong dan Kabupaten Tojo Una-Una.
Setelah pemekaran beberapa wilayah kabupaten, provinsi ini terbagi menjadi 14
daerah, yaitu 13 kabupaten dan 1 kota.
Geografi
Wilayah
Provinsi Sulawesi Tengah bagian utara berbatasan dengan Laut Sulawesi
dan Provinsi Gorontalo,
bagian timur berbatasan dengan Provinsi Maluku,
bagian selatan berbatasan dengan Provinsi Sulawesi
Barat dan Sulawesi Selatan, bagian tenggara berbatasan
dengan Sulawesi Tenggara, dan bagian barat berbatasan
dengan Selat Makassar.
Hidrografi
Sulawesi
Tengah juga memiliki beberapa sungai, di antaranya sungai Lariang yang terkenal
sebagai arena arung jeram, sungai Gumbasa dan sungai Palu. Juga terdapat danau
yang menjadi objek wisata terkenal yakni Danau Poso dan Danau Lindu.
Sulawesi
Tengah memiliki beberapa kawasan konservasi seperti suaka alam, suaka
margasatwa dan hutan lindung yang memiliki keunikan flora dan fauna yang
sekaligus menjadi objek penelitian bagi para ilmuwan dan naturalis.
lklim
Garis
khatulistiwa yang melintasi semenanjung bagian utara di Sulawesi Tengah membuat
iklim daerah ini tropis. Akan tetapi berbeda dengan Jawa dan Bali serta
sebagian pulau Sumatera, musim hujan di Sulawesi Tengah antara bulan April dan
September sedangkan musim kemarau antara Oktober hingga Maret. Rata-rata curah
hujan berkisar antara 800 sampai 3.000 milimeter per tahun yang termasuk curah
hujan terendah di Indonesia.
Temperatur
berkisar antara 25 sampai 31° Celsius untuk dataran dan pantai dengan tingkat
kelembaban antara 71 sampai 76%. Di daerah pegunungan suhu dapat mencapai 16
sampai 22' Celsius.
Flora dan Fauna
Sulawesi
merupakan zona perbatasan unik di wilayah Asia Oceania, di mana flora dan
faunanya berbeda jauh dengan flora dan fauna Asia yang terbentang di Asia
dengan batas Kalimantan, juga berbeda dengan flora dan fauna Oceania yang
berada di Australia hingga Papua dan Pulau Timor. Garis maya yang membatasi
zona ini disebut Wallace Line,
sementara kekhasan flora dan faunanya disebut Wallacea, karena teori ini
dikemukakan oleh Wallace seorang peneliti Inggris yang turut menemukan teori evolusi
bersama Darwin.
Sulawesi
memiliki flora dan fauna tersendiri. Binatang khas pulau ini adalah anoa yang
mirip kerbau, babirusa yang berbulu sedikit dan memiliki taring pada mulutnya,
tersier, monyet tonkena Sulawesi, kuskus marsupial Sulawesi yang berwarna-warni
yang merupakan varitas binatang berkantung serta burung maleo yang bertelur
pada pasir yang panas.
Hutan
Sulawesi juga memiliki ciri tersendiri, didominasi oleh kayu agatis yang
berbeda dengan Sunda Besar yang didominasi oleh pinang-pinangan (spesies rhododenron).
Variasi flora dan fauna merupakan objek penelitian dan pengkajian ilmiah. Untuk
melindungi flora dan fauna, telah ditetapkan taman nasional dan suaka alam
seperti Taman Nasional Lore Lindu, Cagar Alam
Morowali, Cagar Alam Tanjung Api dan terakhir adalah Suaka Margasatwa di
Bangkiriang.
Demografi
Jumlah
penduduk Sulawesi Tengah pada tahun 2010 adalah 2.831.283 jiwa, dengan
kepadatan 46 jiwa/km2. Kabupaten dengan jumlah penduduk terbanyak di provinsi
Sulawesi Tengah adalah Kabupaten Parigi
Moutong dengan jumlah penduduk 449.157 jiwa, sedangkan Kota dengan
jumlah penduduk terbanyak adalah Kota Palu sebanyak 362.202 jiwa. Laju
pertumbuhan penduduk adalah 1,95% per tahun (2010). Sementara penduduk Provinsi
Sulawesi Tengah yang tinggal di daerah pemukiman dan pedalaman ialah sekitar
30%, daerah pesisir 60%, dan kawasan kepulauan ialah 10%.
Pertanian
merupakan sumber utama mata pencaharian penduduk dengan padi sebagai tanaman
utama. Kopi,
Kelapa,
Kakao
dan Cengkeh
merupakan tanaman perdagangan unggulan daerah ini dan hasil hutan berupa rotan,
beberapa macam kayu seperti agatis, ebony dan meranti yang merupakan andalan
Sulawesi Tengah.
Masyarakat
yang tinggal di daerah pedesaan diketuai oleh ketua adat disamping pimpinan
pemerintahan seperti Kepala Desa. Ketua adat menetapkan hukum adat dan denda
berupa kerbau bagi yang melanggar. Umumnya masyarakat yang jujur dan ramah
sering mengadakan upacara untuk menyambut para tamu seperti persembahan ayam
putih, beras, telur serta tuak yang difermentasikan dan disimpan dalam bambu.
Agama
Penduduk
Sulawesi Tengah sebagian besar memeluk agama Islam. Tercatat pada sensus tahun
2015, 76.37% penduduknya memeluk agama Islam, 16.58% memeluk agama Kristen
Protestan, 4.45% memeluk agama Hindu, Katolik sebanyak 1.85%, serta Budha 0.74%.
Islam disebarkan di Sulawesi Tengah oleh Datuk Karama
dan Datuk Mangaji,
ulama dari Sumatera Barat; yang kemudian diteruskan oleh Al Alimul Allamah
Al-Habib As Sayyed Idrus bin Salim Al Djufri, seorang guru pada sekolah
Alkhairaat dan juga diusulkan sebagai Pahlawan nasional. Salah seorang cucunya
yang bernama Salim Assegaf Al Jufri pernah menduduki jabatan
sebagai Menteri Sosial pada masa pemerintahan presiden Susilo Bsmbang Yudhoyono.
Agama
Kristen pertama kali disebarkan di kabupaten Poso dan bagian selatan Donggala
oleh misionaris
Belanda, A.C Cruyt dan Adrian. Meskipun masyarakat Sulawesi Tengah mayoritas
beragama Islam, namun tingkat toleransi beragama sangat tinggi dan semangat
gotong-royong yang kuat merupakan bagian dari kehidupan masyarakat.
Suku Bangsa
Penduduk
asli Sulawesi Tengah terdiri atas 15 kelompok etnis atau suku, yaitu:
- Etnis Kaili berdiam di kabupaten Donggala, Parigi Moutong, Sigi dan kota Palu
- Etnis Kulawi berdiam di kabupaten Sigi
- Etnis Lore berdiam di kabupaten Poso
- Etnis Pamona berdiam di kabupaten Poso
- Etnis Mori berdiam di kabupaten Morowali
- Etnis Bungku berdiam di kabupaten Morowali
- Etnis Saluan atau Loinang berdiam di kabupaten Banggai
- Etnis Balantak berdiam di kabupaten Banggai
- Etnis Mamasa berdiam di kabupaten Banggai
- Etnis Taa berdiam di kabupaten Banggai
- Etnis Bare'e berdiam di Kabupaten Poso,Kabupaten Tojo Una-Una
- Etnis Banggai berdiam di Banggai Kepulauan
- Etnis Buol mendiami kabupaten Buol
- Etnis Tolitoli berdiam di kabupaten Tolitoli
- Etnis Tomini mendiami kabupaten Parigi Moutong
- Etnis Dampal berdiam di Dampal, kabupaten Tolitoli
- Etnis Dondo berdiam di Dondo, kabupaten Tolitoli
- Etnis Pendau berdiam di kabupaten Tolitoli
- Etnis Dampelas berdiam di kabupaten Donggala
Di
samping 13 kelompok etnis, ada beberapa suku hidup di daerah pegunungan seperti
suku Da'a di Donggala dan Sigi, suku Wana di Morowali, suku Seasea dan suku Taa
di Banggai dan suku Daya di Buol Tolitoli. Meskipun masyarakat Sulawesi Tengah
memiliki sekitar 22 bahasa yang saling berbeda antara suku yang satu dengan
yang lainnya, namun masyarakat dapat berkomunikasi satu sama lain menggunakan Bahasa
Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa pengantar sehari-hari.
Selain
penduduk asli, Sulawesi Tengah dihuni pula oleh transmigran seperti dari Bali, Jawa, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Suku pendatang yang juga
banyak mendiami wilayah Sulawesi Tengah adalah Mandar,
Bugis,
Makasar
dan Toraja
serta etnis lainnya di Indonesia sejak awal abad ke 19 dan sudah membaur.
Seni dan Budaya
Kesenian
Musik
dan tarian di Sulawesi Tengah bervariasi antara daerah yang satu dengan
lainnya. Musik tradisional memiliki instrumen seperti gong, kakula, lalove, Gimba, Kudode dan Pare'e. Alat musik ini lebih berfungsi sebagai hiburan dan bukan sebagai bagian
ritual keagamaan. Di wilayah beretnis Kaili sekitar pantai barat - waino -
musik tradisional - ditampilkan ketika ada upacara kematian. Kesenian ini telah
dikembangkan dalam bentuk yang lebih populer bagi para pemuda sebagai sarana
mencari pasangan di suatu keramaian. Banyak tarian yang berasal dari
kepercayaan keagamaan dan ditampilkan ketika festival.
Tari
masyarakat yang terkenal adalah Dero yang berasal dari masyarakat Pamona,
kabupaten Poso dan kemudian diikuti masyarakat Kulawi, kabupaten Donggala.
Tarian dero khusus ditampilkan ketika musim panen, upacara penyambutan tamu,
syukuran dan hari-hari besar tertentu. Dero adalah salah satu tarian di mana
laki-laki dan perempuan berpegangan tangan dan membentuk lingkaran. Tarian ini
bukan warisan leluhur tetapi merupakan kebiasaan selama pendudukan Jepang di
Indonesia ketika Perang Dunia II. Tarian in adalah tarian tradisional Sulawesi
Tengah. Selain Tari Dero, Tarian Daerah yang terkenal dari Sulawesi Tengah adalah Tari Pamonte, Mokambu, Pontanu, Motaro dan Tari Lumense.
Kebudayaan
Sulawesi
Tengah kaya akan budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Tradisi yang
menyangkut aspek kehidupan dipelihara dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.
Kepercayaan lama adalah warisan budaya yang tetap terpelihara dan dilakukan
dalam beberapa bentuk dengan berbagai pengaruh modern serta pengaruh agama.
Karena
banyak kelompok etnis mendiami Sulawesi Tengah, maka terdapat pula banyak
perbedaan di antara etnis tersebut yang merupakan kekhasan yang harmonis dalam
masyarakat. Mereka yang tinggal di pantai bagian barat kabupaten Donggala telah
bercampur dengan masyarakat Bugis dari Sulawesi Selatan dan masyarakat
Gorontalo. Di bagian timur pulau Sulawesi, juga terdapat pengaruh kuat
Gorontalo dan Manado, terlihat dari dialek daerah Luwuk dan sebaran suku
Gorontalo di kecamatan Bualemo yang cukup dominan.
Ada
juga pengaruh dari Sumatera Barat seperti tampak dalam dekorasi upacara
perkawinan. Kabupaten Donggala memiliki tradisi menenun kain warisan zaman
Hindu. Pusat-pusat penenunan terdapat di Donggala Kodi, Watusampu, Palu,
Tawaeli dan Banawa. Sistem tenun ikat ganda yang merupakan teknik spesial yang
bermotif Bali, India dan Jepang masih dapat ditemukan.
Sementara
masyarakat pegunungan memiliki budaya tersendiri yang banyak dipengaruhi suku
Toraja, Sulawesi Selatan. Meski demikian, tradisi, adat, model pakaian dan
arsitektur rumah berbeda dengan Toraja, seperti contohnya ialah mereka
menggunakan kulit beringin sebagai pakaian penghangat badan. Rumah tradisional
Sulawesi Tengah terbuat dari tiang dan dinding kayu yang beratap ilalang dan
hanya memiliki satu ruang besar. Lobo atau duhunga merupakan ruang bersama atau
aula yang digunakan untuk festival atau upacara, sedangkan Tambi merupakan
rumah tempat tinggal. Selain rumah, ada pula lumbung padi yang disebut Gampiri.
Buya
atau sarung seperti model Eropa hingga sepanjang pinggang dan keraba semacam
blus yang dilengkapi dengan benang emas. Tali atau mahkota pada kepala diduga
merupakan pengaruh kerajaan Eropa. Baju banjara yang disulam dengan benang emas
merupakan baju laki-laki yang panjangnya hingga lutut. Daster atau sarung sutra
yang membujur sepanjang dada hingga bahu, mahkota kepala yang berwarna-warni
dan parang yang diselip di pinggang melengkapi pakaian adat. Senjata
tradisional masyarakat Sulawesi Tengah adalah Parang (Guma), Tombak, Sumpit.
Pemerintahan
Pemerintah Provinsi
Kepala
daerah Provinsi Sulawesi Tengah adalah gubernur, yang dibantu oleh seorang
wakil gubernur.
Pembagian Administrasi
Provinsi
Sulawesi Tengah terdiri atas 13 kabupaten dan 1 kota, 147 kecamatan, 170
kelurahan, dan 1.839 desa. Provinsi ini memiliki luas daratan 61.841,29 km2
(BPS 2015), dengan penduduk 2.831.283 jiwa (BPS 2014), dengan tingkat kepadatan
penduduk 46 jiwa/ km2.
Adapun
daftar lengkap nama kabupaten/ kota, nama ibu kota, serta jumlah kecamatan, dan
desa/ kelurahan di Provinsi Sulawesi tengah hingga saat ini adalah sebagai
berikut.
|
Kabupaten/Kota
|
Ibu Kota
|
Kecamatan
|
Kelurahan
/ Desa
|
|
Kabupaten Banggai
|
Luwuk
|
23
|
337
|
|
Kabupaten Banggai Kepulauan
|
Salakan
|
12
|
144
|
|
Kabupaten Banggai Laut
|
Banggai
|
7
|
66
|
|
Kabupaten
Buol
|
Buol
|
11
|
115
|
|
Kabupaten Donggala
|
Donggala
|
16
|
167
|
|
Kabupaten Morowali
|
Bungku
|
9
|
133
|
|
Kabupaten Morowali Utara
|
Kolonedale
|
10
|
125
|
|
Kabupaten Parigi Moutong
|
Parigi
|
23
|
283
|
|
Kabupaten
Poso
|
Poso
|
19
|
166
|
|
Kabupaten
Sigi
|
Sigi Biromaru
|
15
|
176
|
|
Kabupaten Tojo Una-Una
|
Ampana
|
12
|
146
|
|
Kabupaten Tolitoli
|
Tolitoli
|
10
|
106
|
|
Kota Palu
|
Palu
|
8
|
45
|
Pertahanan dan Keamanan
Militer
Sulawesi
Tengah merupakan wilayah Kodam XIII/Merdeka, yang
bermarkas di Manado. Korem 132/Tadulako
terletak di Kota Palu. Korem 132/Tadulako membawahi empat Kodim dan dua Batalyon Infanteri, yaitu:
- Kodim 1305 Buol Tolitoli
- Kodim 1306 Donggala
- Kodim 1307 Poso
- Kodim 1308 Banggai
- Yonif 711/Raksatama
- Yonif 714/Sintuwu Maroso
Palu
merupakan daerah cabang Komando Armada Timur TNI-AL
yang bermarkas di Watusampu. Kawasan TNI-AU terdapat di Bandar Udara Mutiara SIS Al-Jufrie
(Palu), dan Bandar Udara Kasiguncu (Poso). Daerah
latihan militer antara lain terdapat di Bukit Jabal Nur (Palu), dan Gunung Biru
(Poso).
Kepolisian
Polda Sulawesi Tengah
membawahi 13 kabupaten/kota dengan rincian satu kepolisian resor kota (Polresta
Palu), dan 11 kepolisian resor (Polres Banggai Laut masih menjadi satu dengan
Polres Banggai Kepulauan).
Kawasan Lindung
Kawasan Pelestarian Alam
Kawasan
pelestarian alam meliputi taman nasional, taman hutan raya (tahura), dan taman
wisata alam. Sulawesi Tengah memiliki beberapa kawasan taman nasional, yaitu:
- Taman Nasional Lore Lindu di Kabupaten Poso dan Kabupaten Sigi.
- Taman Nasional Kepulauan Togean di Kabupaten Tojo Una-Una.
No comments:
Post a Comment