This blog contains all of the things that I like to share including music, culture, experiences and my articles

Search This Blog

Sunday, February 19, 2017

Cerita Rakyat Sulawesi Tengah : Asal Mula Desa Payol

Dahulu kala ada sebuah keluarga yang tinggal di desa Dondo. Keluarga itu terdiri dari ayah bernama Pak Daesala, ibu bernama Daesumandi, dan anak tunggal nya bernama Daemaji. Suatu hari mereka pergi ke pulau Napo untuk mencari kima. Ketiganya lalu berangkat dengan menggunakan sebuah perahu. Setelah sampai di pulau yang dituju, pak daesala turun dengan istri dan anaknya., namun pak daesala lupa untuk menambatkan perahunya. Sehingga ketika mereka kembali ke bibir pantai untuk pulang. Mereka tidak menemukan lagi perahu mereka. Hari semakin sore, pak daesala bersama istri dan anaknya bingung untuk pulang. Mereka hanya menatap ombak laut yang berkejar-kejaran dengan pandangan kosong.

“ Pak, lalu bagaimana kita pulang ? ” Tanya istrinya kebingungan.

“ Bapak juga bingung, Bu ” kata pak daesala.

Agar air laut tidak semakin naik, ketiganya lalu mengumpulkan bebatuan yang ditumpuk tampai tinggi. Mereka pun berdoa agar Tuhan Yang Maha Kuasa memberikan pertolongan kepada mereka. Ternyata permohonan mereka didengar dan tampaklah seekor ikan payol mendekati mereka.

“ wahai ikan payol jika ingin menolong kami. Merapatlah kedekat tumpukan batu ini ” kata pak daesala.

Ekor ikan payol itu tampak berliuk-liuk menandakan kesediaannya menolong mereka kemudian mereka menduduki punggung ikan payol. Selama tujuh hari tujuh malam mereka terombang ambing ditengah lautan. Anehnya mereka sama sekali tidak merasakan lapar sedikitpun. Ikan payol itu tidak mengantarkan mereka kembali ke kampung dondo.

“ aku mengantarkan kalian hanya sampai disini. Pergilah ke hulu dan menetap disana,” kata ikan payol.

Tidak hanya pak daesala, istri dan anaknya pun kaget mendengar ikan payol itu bisa berbicara seperti manusia. Si ikan payol juga berpesan sebelum kembali ke laut bahwa tempat yang akan mereka tempati itu dinamakan payol.

Ikan payol itu sudah pergi kembali ke laut lepas, pak daesala beserta istri dan anaknya berjalan memasuki tempat itu. Setelah tujuh hari tidak memakan apapun, barulah mereka merasa sangat kelaparan. Disekitar itu mereka tidak menemukan apapun yang dapat dimakan. Sehingga mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak agar tenaga mereka sedikit pulih.

Orang yang pertama mencium ada bau asap adalah pak daesala. Ia pun terbangun dan mencari asal dari bau asap tersebut. Bila ada asap pasti ada api dan pasti ada orang yang telah menyalakan api.

“ apakah kalian mencium bau asap ini ?” Tanya pak daesalah kepada istri dan anaknya.

“ ya, ibu juga menciumnya”, ujar istrinya.

“ mari kita mencari sumber asap itu. Siapa tau kita menemukan orang yang telah menyalakan api itu”, ajak pak daesala.

Dengan berbekal bau asap itu, pak daesalah, istrinya, dan anaknya menyisir tempat itu. Setelah bau asap semakin kuat, tampaklah ada perapian. Ketika pak daesalah mengambil salah satu ranting dari perapian tersebut. Terdengar ada seseorang yang batuk. Ketiganya kaget mendengar suara batuk itu. Setelah itu tampak seorang kakek yang keluar dari rimbunan perkebunan jagung. Orang tersebut adalah Orang Taijo yang merupakan penduduk asli tempat itu.

“ kalian ini siapa dan mengapa bisa berada ditempatku ?” Tanya orang taijo tersebut.

Lalu diceritakanlah awal mula mereka berangkat dari kampung dondohingga terdampar ditempat itu. Tidak lupa pak daesala juga menceritakan pesan dari ikan payol agar tempat itu dinamakan kampung payol. Tampaknya orang taijo itu pun tidak keberatan dengan nama yang diberikan ikan payol. Sejak saat itulah tempat itu dinamakan kampung payol.

Orang taijo itu juga memperkenalkan dirinya dan menceritakan bahwa tempat itu hanya dihuni oleh dirinya bersama istrinya.

Orang taijo itu sangat baik untuk mengajak pak daesala dan keluarganya tinggal dikampung payol. Mereka juga setuju untuk menetap dikampung payol. Lantas pak daesala diberikan sebidang tanah yang luas dikaki gunung.

Mulailah keluarga pak daesala membangun hidup baru dikampung payol. Tanah yang subur dikampung payol membuat hasil perkebunan mereka melimpah. Akan tetapi, hal itu tidak membuat mereka sekeluarga bahagia. Sebab daerah itu sangat sepi, tidak seperti kampung dondo tempat mereka dahulu tinggal yang ramai dengan penduduk.

Istri pak daesala tidak kerasan tinggal ditempat yang sepi seperti itu. Karena terus didesak istrinya, pak daesala pergi kepuncak gunung untuk melihat apakah ada perkampungan disekitar situ. Setelah mencapai puncak gunung. Pak daesala memanjat pohon dan tampaklah disebelah barat sebuah perkampungan itu adalah kampung dondo.

Sebelum pergi, pak daesala berpamitan kepada suami istri orang taijo tersebut. Pak daesala berjanji akan kembali kekampung payol dan meminta izin untuk mengajak tetangga atau sanak keluarga mereka untuk tinggal dikampung payol. Orang paijo itu sama sekali tidak keberatan akan hal tersebut. Mereka justru senang sekali sebab kampung payol akan ramai. Lagi pula lahan dikampung payol masih cukup luas.


Kemudian keluarga pak daesala pergi menuju desa dondo, pak daesala menceritakan pengalamannya dan mengajak agar berpindah kekampung payol. Bersama tujuh belas keluarga, pak daesala kembali kekampung payol dan menetap disana. Pada masa penjajahan belanda kampung payol dinamakan kampung sipayo.

No comments:

Post a Comment