Dahulu kala ada sebuah keluarga yang tinggal di desa Dondo.
Keluarga itu terdiri dari ayah bernama Pak Daesala, ibu bernama Daesumandi, dan
anak tunggal nya bernama Daemaji. Suatu hari mereka pergi ke pulau Napo
untuk mencari kima. Ketiganya lalu berangkat dengan menggunakan sebuah perahu.
Setelah sampai di pulau yang dituju, pak daesala turun dengan istri dan
anaknya., namun pak daesala lupa untuk menambatkan perahunya. Sehingga ketika
mereka kembali ke bibir pantai untuk pulang. Mereka tidak menemukan lagi perahu
mereka. Hari semakin sore, pak daesala bersama istri dan anaknya bingung untuk
pulang. Mereka hanya menatap ombak laut yang berkejar-kejaran dengan pandangan
kosong.
“ Pak, lalu bagaimana kita pulang ? ” Tanya istrinya
kebingungan.
“ Bapak juga bingung, Bu ” kata pak daesala.
Agar air laut tidak semakin naik, ketiganya lalu
mengumpulkan bebatuan yang ditumpuk tampai tinggi. Mereka pun berdoa agar Tuhan
Yang Maha Kuasa memberikan pertolongan kepada mereka. Ternyata permohonan
mereka didengar dan tampaklah seekor ikan payol mendekati mereka.
“ wahai ikan payol jika ingin menolong kami. Merapatlah
kedekat tumpukan batu ini ” kata pak daesala.
Ekor ikan payol itu tampak berliuk-liuk menandakan
kesediaannya menolong mereka kemudian mereka menduduki punggung ikan payol.
Selama tujuh hari tujuh malam mereka terombang ambing ditengah lautan. Anehnya
mereka sama sekali tidak merasakan lapar sedikitpun. Ikan payol itu tidak
mengantarkan mereka kembali ke kampung dondo.
“ aku mengantarkan kalian hanya sampai disini. Pergilah ke
hulu dan menetap disana,” kata ikan payol.
Tidak hanya pak daesala, istri dan anaknya pun kaget
mendengar ikan payol itu bisa berbicara seperti manusia. Si ikan payol juga
berpesan sebelum kembali ke laut bahwa tempat yang akan mereka tempati itu
dinamakan payol.
Ikan payol itu sudah pergi kembali ke laut lepas, pak
daesala beserta istri dan anaknya berjalan memasuki tempat itu. Setelah tujuh
hari tidak memakan apapun, barulah mereka merasa sangat kelaparan. Disekitar itu
mereka tidak menemukan apapun yang dapat dimakan. Sehingga mereka memutuskan
untuk beristirahat sejenak agar tenaga mereka sedikit pulih.
Orang yang pertama mencium ada bau asap adalah pak daesala.
Ia pun terbangun dan mencari asal dari bau asap tersebut. Bila ada asap pasti
ada api dan pasti ada orang yang telah menyalakan api.
“ apakah kalian mencium bau asap ini ?” Tanya pak daesalah
kepada istri dan anaknya.
“ ya, ibu juga menciumnya”, ujar istrinya.
“ mari kita mencari sumber asap itu. Siapa tau kita menemukan
orang yang telah menyalakan api itu”, ajak pak daesala.
Dengan berbekal bau asap itu, pak daesalah, istrinya, dan
anaknya menyisir tempat itu. Setelah bau asap semakin kuat, tampaklah ada
perapian. Ketika pak daesalah mengambil salah satu ranting dari perapian
tersebut. Terdengar ada seseorang yang batuk. Ketiganya kaget mendengar suara
batuk itu. Setelah itu tampak seorang kakek yang keluar dari rimbunan
perkebunan jagung. Orang tersebut adalah Orang Taijo yang merupakan penduduk
asli tempat itu.
“ kalian ini siapa dan mengapa bisa berada ditempatku ?”
Tanya orang taijo tersebut.
Lalu diceritakanlah awal mula mereka berangkat dari kampung
dondohingga terdampar ditempat itu. Tidak lupa pak daesala juga menceritakan
pesan dari ikan payol agar tempat itu dinamakan kampung payol. Tampaknya orang
taijo itu pun tidak keberatan dengan nama yang diberikan ikan payol. Sejak saat
itulah tempat itu dinamakan kampung payol.
Orang taijo itu juga memperkenalkan dirinya dan menceritakan
bahwa tempat itu hanya dihuni oleh dirinya bersama istrinya.
Orang taijo itu sangat baik untuk mengajak pak daesala dan
keluarganya tinggal dikampung payol. Mereka juga setuju untuk menetap dikampung
payol. Lantas pak daesala diberikan sebidang tanah yang luas dikaki gunung.
Mulailah keluarga pak daesala membangun hidup baru dikampung
payol. Tanah yang subur dikampung payol membuat hasil perkebunan mereka
melimpah. Akan tetapi, hal itu tidak membuat mereka sekeluarga bahagia. Sebab
daerah itu sangat sepi, tidak seperti kampung dondo tempat mereka dahulu
tinggal yang ramai dengan penduduk.
Istri pak daesala tidak kerasan tinggal ditempat yang sepi
seperti itu. Karena terus didesak istrinya, pak daesala pergi kepuncak gunung
untuk melihat apakah ada perkampungan disekitar situ. Setelah mencapai puncak
gunung. Pak daesala memanjat pohon dan tampaklah disebelah barat sebuah
perkampungan itu adalah kampung dondo.
Sebelum pergi, pak daesala berpamitan kepada suami istri
orang taijo tersebut. Pak daesala berjanji akan kembali kekampung payol dan
meminta izin untuk mengajak tetangga atau sanak keluarga mereka untuk tinggal
dikampung payol. Orang paijo itu sama sekali tidak keberatan akan hal tersebut.
Mereka justru senang sekali sebab kampung payol akan ramai. Lagi pula lahan
dikampung payol masih cukup luas.
Kemudian keluarga pak daesala pergi menuju desa dondo, pak
daesala menceritakan pengalamannya dan mengajak agar berpindah kekampung payol.
Bersama tujuh belas keluarga, pak daesala kembali kekampung payol dan menetap
disana. Pada masa penjajahan belanda kampung payol dinamakan kampung sipayo.
No comments:
Post a Comment