Ada sebuah legenda yang menceritakan
tentang asal usul batu bagga yang terdapat di Sulawesi Tengah. Batu bagga itu
merupakan sebuah kutukan dari seorang ayah kepada anaknya yang durhaka. Anak
yang telah mendurhakai ayahnya yang telah membesarkannya, pantas untuk diberi
hukuman akibat buah perbuatannya itu.
Dahulu kala ada sebuah perkampungan
dipesisir pantai. Salah satu keluarga yang menempati perkampungan itu adalah
seorang ayah bersama putra semata wayangnya. Ayahnya bernama Intobu dan anaknya
bernama Impalak. Mereka hidup pas-pasan sebagai nelayan kecil.
Suatu hari mereka berangkat melaut
untuk mencari ikan, padahal cuaca sedang tidak mendukung. Mereka terpaksa
melaut sebab persediaan ikan mereka menipis. Dengan berjuang sangat keras
mereka berdua melaut melawan gelombang. Saat perahu kecil mereka
terombang-ambing oleh ombak-ombak yang ganas, Intobu berkata kepada anaknya.
“ Impalak, jangan sampai gelombang
laut ini menyurutkan semangatmu. Sebab hanya dari pekerjaan inilah kita
bergantung”.
Impala hanya mengangguk-angguk
mendengarkan nasihat dari ayahnya. Namun, lama-kelamaan Impalak merasa jenuh
juga menghadapi hidup miskin. Ia tidak mau selamanya hidup mengandalkan sampan
untuk mencari ikan dengan penghasilan yang hanya cukup untuk dimakan sehari-hari.
Setelah dipikir-pikir untuk mengubah nasibnya, Impalak harus keluar dari
perkampungannya untuk merantau ke negri lain. Lalu bagaimana dengan ayahnya,
batin impala. Apalagi ayahnya sudah sangat tua dan tidak memungkinkan untuk
melaut sendirian.
Karena beban pikiran it uterus
terngiang-ngiang dikepalanya, ayahnya pun sadar bahwa anak semata wayangnya ini
sedang dirundung masalah.
“ ada apa anakku ? ayah lihat
belakangan ini kau tampak murung”. Sapa Intobu kepadaImpalak yang sedang duduk
termenung diteras rumahnya.
“ tidak apa-apa, yah”. Jawab
Impalak.
“ Jangan berbohong kepada ayah. Ayah
tahu kau sedang memikirkan sesuatu”.
Mesi didesak terus menerus, akhirnya
impala buka suara.
“ Maafkan aku, ayah. Aku merasa
jenuh hidup seperti ini. Terlebih lagi penghasilan kita hanya cukup untuk makan
sehari-hari. Aku ingin merantau untuk memperbaiki hidup kita, yah “.
“ Tetapi ayahmu ini sudah tua, nak.
Sudah tidak sanggup melaut seorang diri. Lalu siapa nanti yang akan mendayung
perahukalau bukan kau anakku” kata Intobu.
“ Ayah saat ini aku sudah dewasa.
Sudah waktunya untuk membahagiakan ayah. Niar Impalak yang mencari Nafkah untuk
ayah. Jika memang ayah harus melaut tidak usah jauh-jauh”.
“ Kalau memang itu keputusanmu. Ayah
mengizinkan kau untuk merantau. Tetapi ayah mengharap kau kembali pulang
secepatnya”. Kata ayahnya dengan lembut.
“ baik, yah. Aku akan berjanji
pulang secepatnya”.
Kemudian Impalak segera menuju
pelabuhan untuk melihat apakah ada perahu bagga yang sedang bersandar.
Tampaknya ada sebuah perahu bagga. Lalu Impalak memberanikan diri untuk menemui
si pemilik perahu untuk menumpang perahunya.
“Permisis, tuan ! saya Impalak.
Apakah saya boleh ikut perahu tuan ?” Tanya Impalak sopan.
“ memangnya mengapa kau ikngin ikut
berlayar bersamaku?” tanya si pemilik kapal menyelidik.
“ saya ingin merantau tuan untuk
mengubah nasib saya”.
“ memangnya apa pekerjaan orang
tuamu ? “.
“ ayah saya hanya seorang nelayan
miskin danb ibu saya telah meninggal sejak saya masih kecil. Oleh karena itu,
saya ingin membahagiakan ayah saya”, ujar Impalak.
“ Baiklah. Kau memang anak yang baik
dan berbakti kepada orang tua. Kalau begitu, datanglah esok pagi. Kita akan
berlayar bersama”, kata si pemilik perahu sambil menepuk pundak Impalak.
Sepulang dari pelabuhan, Impalak
menceritakan kesediaan pemilik perahu bagga untuk mangajaknya berlayar. Ayahnya
juga merasa bersyukur mendengar berita tersebut, meskipun hatinya agak berat
melepas kepergian anaknya. Setelah berkemas untuk persiapan Impalak yang akan
merantau, keduanya pun tertidur puylas pada malam itu.
Keesokan harinya mereka berdua
berangkat ke pelabuhan pagi-pagi sekali untuk mengejar perahu bagga yang
memanggil Impalak untuk segera naik keatas kapal. Sebab kapal tidak lama lagi
akan berlayar.
“ hai, impala ! cepat naik. Kapalini
akan berangkat”, kata si pemilik kapal.
“ baik, tuan. Aku akan segera naik”,
sahut impala.
Kemudian impala pun berpamitan dan
mencium tangan ayahnya. Perasaan sedih karena harus berpisah melingkupi hati
mereka berdua. Intobu tak sanggup menahan air matanya yang mengucur begitu saja
dari kedua matanya. Hanya satu pesannya agar impala segera pulang. Ia berdoa
agar impala menjadi orang sukses diperantauan.
Intobu terus saja mendampingi perahu
bagga yang semakin menjau dari pelabuhan. Hingga kapal itu lenyap dari
pandangannya, barulah ia pulang kerumah. Hari demi hari terus dijalani Intobu
seorang diri dalam gubuknya yang sempit. Tidak terasa sudah bertahun-tahun
Impalak merantau dinegri orang. Intobu yang malang selalu menyempatkan diri
pergi ke pelabuhan. Setiap ada perahu bagga yang merapat harapannya selalu
muncul. Ia berharap Impalak pulang.
Hingga suatu ketika Intobu sedang
mencari iakn tidak jauh daribibir pantai, ia melihat sebuah perahu bagga. Lalu
tanpa tahu mengapa hatinya berdebar-debar begitu melihat perahu bagga tersebut.
Tampakdidalam perahu bagga itu ada Impalak, Putranya, bersama seorang wanita
cantik yang merupakan istrinya. Intobu sangat senang melihat anaknya yang sudah
sukses dan mempunyai istri yang cantik.
“ Impalak ! anakku !”, teriak Intobu
diatas sampan kecilnya. Namun seakan-akan impalak mengacuhkannya tanpa
mempedulikan panggilan ayahnya itu. Istrinya pun bertanya siapakah orang tua
yang menyebut-nyebut namanya itu. Namun, impala justru berpura-pura tidak
mengenalinya. Padahal ia tahu betul orang itu adalah ayah kandungnya. Impala
sebenarnya merasa malu dihadapan istrinya untuk mengakui bahwa orang itu adalah
ayahnya.
“ ah, dia hanya orang gila yang
mengaku menjadi ayahku” jawab impala kepada istrinya.
Dari atas sampan, tampakintobu yang
berjuang keras mengayuh dayungnya untuk mencapai perahu bagga Impalak. Namun
setelah hampir sampai, sangin kencang menerpa sampannya, sehingga sampan itu
terombang-ambing dilautan. Intobu berteriak minta tolong kepadaImpalak. Namun,
bukannya menolong ayahnya yang kesusahan, impala justru menertawainya dari atas
perahu bagganya tanpa perasaan sedikitpun.
Intobu kecewa melihat sikap anaknya
yang tidak mempedulikannya. Habis sudah kesabarannya. Dengan menengadahkan
kedua tangannya, Intobu berddoa kepada yang maha kuasa agar anaknya diberi
pelajaran atas sikap durhakanya.
Tidak lama kemudian,doa intobu
rupanya dikabulakn. Karena perahu bagga yang dinaiki impala berubah menjadi
batu dalam sekejap.
No comments:
Post a Comment