This blog contains all of the things that I like to share including music, culture, experiences and my articles

Search This Blog

Tuesday, February 21, 2017

Cerita Rakyat Sulawesi Tengah : Legenda Batu Bagga

Ada sebuah legenda yang menceritakan tentang asal usul batu bagga yang terdapat di Sulawesi Tengah. Batu bagga itu merupakan sebuah kutukan dari seorang ayah kepada anaknya yang durhaka. Anak yang telah mendurhakai ayahnya yang telah membesarkannya, pantas untuk diberi hukuman akibat buah perbuatannya itu.

Dahulu kala ada sebuah perkampungan dipesisir pantai. Salah satu keluarga yang menempati perkampungan itu adalah seorang ayah bersama putra semata wayangnya. Ayahnya bernama Intobu dan anaknya bernama Impalak. Mereka hidup pas-pasan sebagai nelayan kecil.

Suatu hari mereka berangkat melaut untuk mencari ikan, padahal cuaca sedang tidak mendukung. Mereka terpaksa melaut sebab persediaan ikan mereka menipis. Dengan berjuang sangat keras mereka berdua melaut melawan gelombang. Saat perahu kecil mereka terombang-ambing oleh ombak-ombak yang ganas, Intobu berkata kepada anaknya.

“ Impalak, jangan sampai gelombang laut ini menyurutkan semangatmu. Sebab hanya dari pekerjaan inilah kita bergantung”.

Impala hanya mengangguk-angguk mendengarkan nasihat dari ayahnya. Namun, lama-kelamaan Impalak merasa jenuh juga menghadapi hidup miskin. Ia tidak mau selamanya hidup mengandalkan sampan untuk mencari ikan dengan penghasilan yang hanya cukup untuk dimakan sehari-hari. Setelah dipikir-pikir untuk mengubah nasibnya, Impalak harus keluar dari perkampungannya untuk merantau ke negri lain. Lalu bagaimana dengan ayahnya, batin impala. Apalagi ayahnya sudah sangat tua dan tidak memungkinkan untuk melaut sendirian.

Karena beban pikiran it uterus terngiang-ngiang dikepalanya, ayahnya pun sadar bahwa anak semata wayangnya ini sedang dirundung masalah.

“ ada apa anakku ? ayah lihat belakangan ini kau tampak murung”. Sapa Intobu kepadaImpalak yang sedang duduk termenung diteras rumahnya.

“ tidak apa-apa, yah”. Jawab Impalak.

“ Jangan berbohong kepada ayah. Ayah tahu kau sedang memikirkan sesuatu”.

Mesi didesak terus menerus, akhirnya impala buka suara.

“ Maafkan aku, ayah. Aku merasa jenuh hidup seperti ini. Terlebih lagi penghasilan kita hanya cukup untuk makan sehari-hari. Aku ingin merantau untuk memperbaiki hidup kita, yah “.

“ Tetapi ayahmu ini sudah tua, nak. Sudah tidak sanggup melaut seorang diri. Lalu siapa nanti yang akan mendayung perahukalau bukan kau anakku” kata Intobu.

“ Ayah saat ini aku sudah dewasa. Sudah waktunya untuk membahagiakan ayah. Niar Impalak yang mencari Nafkah untuk ayah. Jika memang ayah harus melaut tidak usah jauh-jauh”.

“ Kalau memang itu keputusanmu. Ayah mengizinkan kau untuk merantau. Tetapi ayah mengharap kau kembali pulang secepatnya”. Kata ayahnya dengan lembut.

“ baik, yah. Aku akan berjanji pulang secepatnya”.

Kemudian Impalak segera menuju pelabuhan untuk melihat apakah ada perahu bagga yang sedang bersandar. Tampaknya ada sebuah perahu bagga. Lalu Impalak memberanikan diri untuk menemui si pemilik perahu untuk menumpang perahunya.

“Permisis, tuan ! saya Impalak. Apakah saya boleh ikut perahu tuan ?” Tanya Impalak sopan.

“ memangnya mengapa kau ikngin ikut berlayar bersamaku?” tanya si pemilik kapal menyelidik.

“ saya ingin merantau tuan untuk mengubah nasib saya”.

“ memangnya apa pekerjaan orang tuamu ? “.

“ ayah saya hanya seorang nelayan miskin danb ibu saya telah meninggal sejak saya masih kecil. Oleh karena itu, saya ingin membahagiakan ayah saya”, ujar Impalak.
“ Baiklah. Kau memang anak yang baik dan berbakti kepada orang tua. Kalau begitu, datanglah esok pagi. Kita akan berlayar bersama”, kata si pemilik perahu sambil menepuk pundak Impalak.

Sepulang dari pelabuhan, Impalak menceritakan kesediaan pemilik perahu bagga untuk mangajaknya berlayar. Ayahnya juga merasa bersyukur mendengar berita tersebut, meskipun hatinya agak berat melepas kepergian anaknya. Setelah berkemas untuk persiapan Impalak yang akan merantau, keduanya pun tertidur puylas pada malam itu.

Keesokan harinya mereka berdua berangkat ke pelabuhan pagi-pagi sekali untuk mengejar perahu bagga yang memanggil Impalak untuk segera naik keatas kapal. Sebab kapal tidak lama lagi akan berlayar.

“ hai, impala ! cepat naik. Kapalini akan berangkat”, kata si pemilik kapal.

“ baik, tuan. Aku akan segera naik”, sahut impala.

Kemudian impala pun berpamitan dan mencium tangan ayahnya. Perasaan sedih karena harus berpisah melingkupi hati mereka berdua. Intobu tak sanggup menahan air matanya yang mengucur begitu saja dari kedua matanya. Hanya satu pesannya agar impala segera pulang. Ia berdoa agar impala menjadi orang sukses diperantauan.

Intobu terus saja mendampingi perahu bagga yang semakin menjau dari pelabuhan. Hingga kapal itu lenyap dari pandangannya, barulah ia pulang kerumah. Hari demi hari terus dijalani Intobu seorang diri dalam gubuknya yang sempit. Tidak terasa sudah bertahun-tahun Impalak merantau dinegri orang. Intobu yang malang selalu menyempatkan diri pergi ke pelabuhan. Setiap ada perahu bagga yang merapat harapannya selalu muncul. Ia berharap Impalak pulang.

Hingga suatu ketika Intobu sedang mencari iakn tidak jauh daribibir pantai, ia melihat sebuah perahu bagga. Lalu tanpa tahu mengapa hatinya berdebar-debar begitu melihat perahu bagga tersebut. Tampakdidalam perahu bagga itu ada Impalak, Putranya, bersama seorang wanita cantik yang merupakan istrinya. Intobu sangat senang melihat anaknya yang sudah sukses dan mempunyai istri yang cantik.

“ Impalak ! anakku !”, teriak Intobu diatas sampan kecilnya. Namun seakan-akan impalak mengacuhkannya tanpa mempedulikan panggilan ayahnya itu. Istrinya pun bertanya siapakah orang tua yang menyebut-nyebut namanya itu. Namun, impala justru berpura-pura tidak mengenalinya. Padahal ia tahu betul orang itu adalah ayah kandungnya. Impala sebenarnya merasa malu dihadapan istrinya untuk mengakui bahwa orang itu adalah ayahnya.

“ ah, dia hanya orang gila yang mengaku menjadi ayahku” jawab impala kepada istrinya.

Dari atas sampan, tampakintobu yang berjuang keras mengayuh dayungnya untuk mencapai perahu bagga Impalak. Namun setelah hampir sampai, sangin kencang menerpa sampannya, sehingga sampan itu terombang-ambing dilautan. Intobu berteriak minta tolong kepadaImpalak. Namun, bukannya menolong ayahnya yang kesusahan, impala justru menertawainya dari atas perahu bagganya tanpa perasaan sedikitpun.

Intobu kecewa melihat sikap anaknya yang tidak mempedulikannya. Habis sudah kesabarannya. Dengan menengadahkan kedua tangannya, Intobu berddoa kepada yang maha kuasa agar anaknya diberi pelajaran atas sikap durhakanya.


Tidak lama kemudian,doa intobu rupanya dikabulakn. Karena perahu bagga yang dinaiki impala berubah menjadi batu dalam sekejap.

No comments:

Post a Comment