Tumbuhnya pohon sagu dan pohon palem menurut kepercayaan
masyarakat Sulawesi Tengah merupakan jelmaan dari sebuah keluarga. Sang ayah
menjelma menjadi pohon palem, sementara istri dan anaknya berubah menjadi pohon
sagu.
Peristiwa itu berawal ketika seorang istri memergoki
suaminya sedang bermalas malasan dihutan. Padahal suaminya telah berjanji akan
membuka lahan dengan menebang pohon dihutan itu. Namun yang ditemukan istrinya
malah suaminya yang sedang termenung memandangi pohon-pohon dihutan bukannya
sibuk membabat pohon untuk membuka lahan. Sungguh kecewa hati sang istri
melihat suaminya bermalas- malasan seperti itu.
Padahal sang istri sudah sangat berharap suaminya mau
berubah. Ia pun sudah bosan hidup dalam kemiskinan. Gubuk yang ditempatinya itupun
sudah sangat reyot. Bahkan untuk makan sehari-haripun mereka kesusahan. Mereka
hanya memakan buah-buahan liar yang mereka petik dihutan untuk makanan sehari
hari.
Suatu ketika sang suami seperti mendapat pencerahan untuk
memperbaiki kehidupan mereka menjadi lebih baik. Ia berniat akan membuka lahan
perkebunan untuk ditanami palawija dan sayur-mayur. Pada suatu kesempatan,
sang suami mengutarakan niatnya tersebut kepada istrinya.
“ adik, bagaimana kalau kita menanam sayur-mayur dan
palawija untuk memperbaiki kehidupan kita ini”, usul suaminya.
Tentu istrinya menyambut usul tersebut dengan riang. Dalam
bayangan suaminya akan berubah begitupun kehidupan keluarga mereka yang akan
berubah menjadi lebih baik. Namun setelah dipikir-pikir mereka sama sekali
tidak mempunyai tanah kecuali sebidang tanah dirumah yang mereka tempati.
“ bukankah kita tidak mempunyai lahan untuk ditanami ?”
Tanya istrinya.
“ tenang, bu. Aku sudah memikirkan hal itu sebelumnya. Nanti
aku akan membuka hutan untuk dijadikan lahan”.
Istrinya setuju dengan usulan itu. Lalu pada keesokan
harinya sang suami berangkat kehutan dolo untuk mencari tempat yang cocok
dijadikan lahan perkebunan. Sang istri yang melihat suaminya begitu
bersemangat, merasa sangat senang. Setelah melihat hutan dolo tersebut, sang
suami menemukan tempat yang cocok untuk membuka hutan.
Menjelang sore, sang suami pulang kerumah. Ia pun disambut oleh istri dan anaknya. Secangkir
air diberikan istri kepada suaminya yang letih.
“ bagaimana lahan itu ? apakah ada tempat yang cocok?” Tanya
istrinya.
“ Ya, Aku sudah menemukan lahan itu. Besok aku akan mulai
membuka hutan itu”, kata suaminya. Istrinya pun tersenyum senang mendengar hal
itu.
Pada keesokan hari, sang suami berangkat kehutan untuk
memulai membuka lahan. Tanah yang dipilihnya itu tidak terlalu jauh dari rumah
dan tanahnya juga subur. Namun sesampainya dihutan, ia maha bermalas-malasan
seraya memandangi sekitar hutan.
Setiap hari suaminya berpamitan untuk membuka hutan, tetapi
pada kenyataannya, ia malah bermalas-malasan dihutan. Jawaban yang diberikan
kepada istrinya setiap sang istri bertanya pun sama “ Belum selesai”. Karena
penasaran, sang istri suatu hari menyusul suaminya kehutan. Namun yang didapati
suaminya sedang duduk bermalas-malasan. Apa yang dibayangkannya selama ini
sepertinya salah.
Sang suami merasa tersinggung dan pulang dengan marah.
Setibanya dirumah, sang suami membanting perabotan dirumahnya. Terjadilah
percekcokan antara keduanya. Lalu sang istri keluar menuju hutan.
Beberapa lama setelah sang istri pergi, sang suami menyadari
kesalahannya dan menyusul sang istri bersama anak tunggalnya, Namun semua sudah
terlambat. Sang suami memohon agar sang istri kembali. Namun permohonan itu
mengurungkan niat sang istri untuk menceburkan diri ke dalam telaga. Didalam
telaga tersebut, tampak sang istri perlahan-lahan berubah menjadi pohon sagu.
Anaknya yang tidak dapat berpisah dengan ibunya kemudian menyusul masuk ke
dalam telaga. Lalu, keduanya pun berubah menjadi pohon sagu. Sang suami yang
merasa bersalah, turut masuk kedalam telaga dan berubah menjadi pohon palem.
No comments:
Post a Comment