This blog contains all of the things that I like to share including music, culture, experiences and my articles

Search This Blog

Saturday, February 25, 2017

Cerita Rakyat Sulawesi Tengah : Legenda Ikan Duyung

Di sebuah perkampungan ada sebuah keluarga yang terdiri dari sepasang suami istri dan ketiga anak merekayang masih kecil. Sang suami bekerja menanam umbi-umbian diladang dan mencari ikan dilaut. Kebiasaan dalam keluarga mereka, selalu berkumpul setiap pagi untuk sarapan. Begitu pun pada pagi itu, bersama-sama mereka sarapan dengan lauk ikan. Kebetulan ikan hasil tangkapan sebelumnya cukup banyak sehingga lauk ikan pagi itu tidak habis dimakan.

Setelah sarapan, sang suami akan pergi ke kebun, namun sebelum berangkat ia berpesan kepada istrinya untuk menyisahkan lauk ikan tersebut untuk makan siangnya.

“ istriku, simpan ikan ini untuk makanku siang nanti ”, pesan suaminya.
“ ya suamiku. Akan aku simpan ikan ini ”, sahut istrinya.

Menjelang siang, anak bungsunya pulang setelah lelah bermain dengan kakak-kakaknya. Ia kelaparan sesudah bermain dan meminta makan kepada ibunya. Lalu diberikannya sepiring nasi dan sedikit ikan kepada si bungsu. Dengan cepat si bungsu melahap habis ikan itu tanpa sisa. Karena masih kurang ia meminta makan lagi.

“ jangan anakku. Ikan itu untuk ayahmu ”, kata ibunya memberi pengertian.

Namun tampaknya si bungsu tidak mau mengerti. Malah ia menangis dengan kerasnya. Karena kasihan, si ibu memberikan lagi sepiring nasi dengan sedikit ikan. Setelah habis nasi dan ikan itu, lagi-lagi si bungsu merengek minta ikan. Kali ini si bungsu menangis menjerit-jerit sambil berguling-guling di tanah. Tentu ibunya semakin tidak tega melihat anaknya seperti itu. Oleh karena itu, diberikanlah semua sisa ikan tersebut.

Ketika siang, suaminya pulang dari lading untuk makan siang. Pada saat hidangan sudah tersaji diatas meja, suaminya mencari-cari laukikan yang dipesannya tadi pagi tidak ada dimeja makan.

“ kemana lauk ikan yang kupesan tadi pagi ? ”, Tanya suaminya dengan galak.

“ maaf, bang. Ikan itu sudah dimakan si bungsu. Tadi dia merengek hingga berguling-guling diatas tanah meminta ikan itu ”, jelas istrinya.
Namun suaminya tidak menunjukkan rasa pengertiannya, ia marah-marah karena istrinya tidak mendengarkanpermintaannya. Istrinya pun sudah menjelaskan berulang-ulang kali, tetapi suaminya tetap saja marah-marah. Karena sudah tidak tahan lagi mendengar suaminya marah, istrinya berpikir untuk pergi dari rumah.

Saat malam hari, suami dan anak-anaknya bangun untuk sarapan. Karena biasanya pagi-pagi sekali sang istri telah menyiapkan makanan untuk sarapa. Akan tetapi hari itu, istrinya tidak ada dirumah. Berkali-kali suaminya memanggil istrinya, tetapi tidak juga ada jawaban. Sehingga ia menyuruh anak-anaknya mencari ibu mereka dilaut.

“ Carilah ibu kalian dilaut. Mungkin ia disana ”, perintah ayahnya.

“ Mengapa mencari dilaut, yah ? ” Tanya si sulung.

“ Bukankah kemarin si bungsu ingin memakan ikan. Barangkali ibu kalian sedang menangkap ikan sekarang ”, papar ayahnya.

Sesuai perintah ayahnya, si sulung mengajak kedua adiknya untuk kelaut mencari ibu mereka. Ditepi laut, mereka memanggil ibunya sambil bernyanyi.

Ibu Pulanglah Ibu …
Ibu Pulanglah Ibu …
Si Bungu ingin Menyusu …

Setelah mereka bernyanyi tiga kali, Ibu mereka muncul dari laut dengan membawa ikan-ikan. Diberikannya ikan-ikan itu dan disusukannya si bungsu.

“ Anak-anakku, kalian pulanglah dan bawa ikan-ikan ini untuk makan siang kalian dan ayah kalian ”, kata si ibu.

“ Ayo, Bu. Kita pulang bersama ”, ajak si sulung.

“ kalian duluanlah. Nanti ibu menyusul. Ibu masih ingin mencari ikan untuk kalian ”.

Lalu anak-anak itupun pulang membawa ikan-ikan tersebut. Sesampainya dirumah, anak-anaknya membenarkan perkiraan ayahnya. Ibu mereka memang ada dilaut sedang menangkap ikan.

“ Lalu kemana ibu kalian ? mengapa tidak pulang bersama kalian ? ” Tanya ayahnya.

“ Ibu masih dilaut. Katanya ia masih ingin mencari lebih banyak lagi ikan. Ibu memberikan ikan-ikan ini untuk kita ”, kata si sulung sambil menunjukkan ikan-ikan itu.

“ Kalau begitu cepat panggang ikan-ikan itu ”, perintah ayahnya.

Si sulung akhirnya memanggang ikan itu. Hingga selesai memanggang, ibu mereka tak kunjung pulang. Kemudian ayah mereka mengajak anak-anaknya memakan ikan itu terlebih dahulu.

“ Ayo kita habiskan ikan panggang ini ”, kata sang ayah.

“ Lalu bagaimana dengan ibu ? kasihan ibu kalau ikan panggang ini kita habiskan ”, ujar si sulung.

“ sudah tidak usah memikirkan ibu kalian. Ibu kalian saja tidak memikirkan ayah saat jatah ikan ayah diberikan kepada si bungsu ” .

Setelah mendengar bentakkan ayahnya. Ketiga anak itu tidak mampu membantah perintah ayahnya. Akhirnya semua ikan panggang itu mereka makan sampai habis. Akan tetapi hingga senja, ibu mereka tidak pulang-pulang juga. Si sulung dan adik-adiknya menjadi cemas. Malam pun datang, tetapi ibu mereka tidak pulang.

Pada keesokan harinya, ketiga anak itu pergi kelaut untukmenyusul ibunya. Dengan mendendangkan lagu yang sama sebanyak tiga kali, muncullah ibu mereka. Namun kini permukaan kulit ibunya dipenuhi sisik seperti ikan. Mereka ketakutan melihat ibu mereka yang bersisik. Si bungsu pun enggan menyusu.

“ kemarilah anak-anakku ” kata sang ibu.

“ tidak. Kau bersisik seperti ikan. Kau bukan ibu kami ”, kata anak-anak itu bersamaan.


Lalu anak-anak itu pun pergi tanpa mempunyai tujuan, sementara ibu mereka kini telah berubah menjadi seekor ikan Duyung.

No comments:

Post a Comment