Di sekitar Danau Poso terdapat sekelompok manusia yang cara
hidupnya masih primitif. Mereka tinggal berpindah-pindah atau nomaden. Selain
itu untuk memperoleh makanan, mereka
berburu dan meramu tanaman. Kaum pria bekerja dengan berburu binatang dihutanm sedangkan
kaum wanita memetik buah-buahan dan dedaunan untuk diramu lalu disajikan
sebagai makanan.
Sauatu ahri ada tujuan orang asing datang ke perkampungan
mereka. Ketujuh orang asing itu merupakan ahli dalam melukis dan membuat
patung. Kedatangan mereka ke pamona untuk mencari tempat yang sekiranya cukup
subur sebagai tempat mereka menetap nanti. Selain daerah yang subur, warga
sekitar tampak sangat baik dan ramah. Itulah yang menyebabkan mereka memilih
pamona sebagai tempat untuk memulai hidup mereka yang baru. Kemudian mereka
kembali ke daerah asal mereka untuk mengajak saudara-saudara mereka agar ikut
pindah ke pamona.
Singkat cerita, pamona menjadi daerah yang ramai. Penduduk
asli diajarkan cara melukis dan membuat patung oleh warga pendatang tersebut.
Tidak hanya itu, kehidupan mereka berubah. Kini mereka tidak lagi hidup dengan
berburu dan meramu. Karena mereka sudah dikenalkan dengan cara berladang yang
baik.
Penduduk di pamona semakin banyak dari tahun ke tahun.
Halini akhirnya memicu perselisihan dengan memperebutkan tanah. Akhirnya mereka
mengadakan musyawarah untuk menyelesaikan hal itu. Dalam musyawarah itu, mereka
sepakat untuk mengangkat satu orang yang akan menjadi pemimpin yang berfungsi
sebagai penegak hokum.
Calon pemimpin yang mereka idamkan ialah yang adil,
bijaksana dan berwibawa. Diantara mereka ada yang telah mencalonkan diri. Akan
tetapi, masyarakat sepertinya merasa ada yang kurang dari keseluruh calon
tersebut.
Lalu datanglah dua pemuda berkulit sawo matang dan berbadan
tegap. Mereka merupakan keturunan pendatang dipamona. Keduanya senang tinggal
didaerah tersebut. Masyarakatnya sangat ramah, terlebih lagi mereka tinggal
sebab masih banyak diantara mereka yang berasal dari asal yang sama. Sifat
keduanya begitu sopan membuat penduduk setempat menerima kedatangan keduanya.
Salah satu dari keduanya ada yang memutuskan untuk
meneruskan perjalanan ke Luwu. Dengan ditemani enam orang pemuda pamona, pemuda
itumelakukan perjalanan dengan menggunakan sampan yang membelah Danau Poso.
Setelah sampai ditempat tujuan, tiga pemuda pamona memutuskan untuk kembali ke pamona dan sisanya mengikuti
pemuda itu dan pemuda tersebut kelak menjadi Raja Luwu.
Sementara kakaknya yang masih menetap di pamona bernama
Lelealu menjadi pemimpin di pamona. Untuk memantapkannya, Lelealu dijodohkan
dengan gadis setempat yang bernama Monogu.
Lelealu kemudian diangkat menjadi raja pamona setelah
menikah dengan Monogu. Disamping itu, penduduk sepakat membuatkan Istana yang
disebut Langkanae untuk tempat tinggal Raja. Oleh masyarakat setempat Lelealu
diberi gelar Datu Pamona - Rombenunu
No comments:
Post a Comment