This blog contains all of the things that I like to share including music, culture, experiences and my articles

Search This Blog

Tuesday, February 28, 2017

Cerita Rakyat Sulawesi Tengah : Kisah Datu Pamona

Di sekitar Danau Poso terdapat sekelompok manusia yang cara hidupnya masih primitif. Mereka tinggal berpindah-pindah atau nomaden. Selain itu untuk memperoleh  makanan, mereka berburu dan meramu tanaman. Kaum pria bekerja dengan berburu binatang dihutanm sedangkan kaum wanita memetik buah-buahan dan dedaunan untuk diramu lalu disajikan sebagai makanan.

Sauatu ahri ada tujuan orang asing datang ke perkampungan mereka. Ketujuh orang asing itu merupakan ahli dalam melukis dan membuat patung. Kedatangan mereka ke pamona untuk mencari tempat yang sekiranya cukup subur sebagai tempat mereka menetap nanti. Selain daerah yang subur, warga sekitar tampak sangat baik dan ramah. Itulah yang menyebabkan mereka memilih pamona sebagai tempat untuk memulai hidup mereka yang baru. Kemudian mereka kembali ke daerah asal mereka untuk mengajak saudara-saudara mereka agar ikut pindah ke pamona.

Singkat cerita, pamona menjadi daerah yang ramai. Penduduk asli diajarkan cara melukis dan membuat patung oleh warga pendatang tersebut. Tidak hanya itu, kehidupan mereka berubah. Kini mereka tidak lagi hidup dengan berburu dan meramu. Karena mereka sudah dikenalkan dengan cara berladang yang baik.

Penduduk di pamona semakin banyak dari tahun ke tahun. Halini akhirnya memicu perselisihan dengan memperebutkan tanah. Akhirnya mereka mengadakan musyawarah untuk menyelesaikan hal itu. Dalam musyawarah itu, mereka sepakat untuk mengangkat satu orang yang akan menjadi pemimpin yang berfungsi sebagai penegak hokum.

Calon pemimpin yang mereka idamkan ialah yang adil, bijaksana dan berwibawa. Diantara mereka ada yang telah mencalonkan diri. Akan tetapi, masyarakat sepertinya merasa ada yang kurang dari keseluruh calon tersebut.

Lalu datanglah dua pemuda berkulit sawo matang dan berbadan tegap. Mereka merupakan keturunan pendatang dipamona. Keduanya senang tinggal didaerah tersebut. Masyarakatnya sangat ramah, terlebih lagi mereka tinggal sebab masih banyak diantara mereka yang berasal dari asal yang sama. Sifat keduanya begitu sopan membuat penduduk setempat menerima kedatangan keduanya.

Salah satu dari keduanya ada yang memutuskan untuk meneruskan perjalanan ke Luwu. Dengan ditemani enam orang pemuda pamona, pemuda itumelakukan perjalanan dengan menggunakan sampan yang membelah Danau Poso. Setelah sampai ditempat tujuan, tiga pemuda pamona memutuskan  untuk kembali ke pamona dan sisanya mengikuti pemuda itu dan pemuda tersebut kelak menjadi Raja Luwu.

Sementara kakaknya yang masih menetap di pamona bernama Lelealu menjadi pemimpin di pamona. Untuk memantapkannya, Lelealu dijodohkan dengan gadis setempat yang bernama Monogu.


Lelealu kemudian diangkat menjadi raja pamona setelah menikah dengan Monogu. Disamping itu, penduduk sepakat membuatkan Istana yang disebut Langkanae untuk tempat tinggal Raja. Oleh masyarakat setempat Lelealu diberi gelar Datu Pamona - Rombenunu

No comments:

Post a Comment