This blog contains all of the things that I like to share including music, culture, experiences and my articles

Search This Blog

Thursday, March 2, 2017

Cerita Rakyat Sulawesi tengah : Legenda Tanduk Alam

Negeri Banggai terletak di Sulawesi Tengah. Negeri itu dipimpin oleh Raja Adi Cokro. Di bawah kepemimpinannya, Rakyat Banggai hidup dalam kemakmuran dan selalu tercukupi. Untuk mengatur kerajaan, raja dibantu oleh empat orang basalo ( pembantu raja ).

Raja Adi Cokro mempunyai seorang Putri yang sangat disayanginya. Namun, pada suatu hari putrid kesayangannya itu hilang. Mendengar hal itu Raja Adi Cokro menjadi Gusar. Diperintahkannya para prajurit dan seluruh rakyatnya untuk menyebar mencari putrinya yang hilang. Setiap sudut negeri itu sudah ditelusuri, tetapi keberadaan putrid tidak juga ditemukan.

Ada kabar yang berembus bahwa putrid telah diculik oleh orang tobelo dari pihak Kerajaan ternate. Sebab kerajaan Ternate ingin menguasai Negeri Banggai. Untuk itu raja pun memanggil keempat basalonya. Dalam titahnya, Raja Adi Cokro memerintahkan untuk mencari putrid yang disekap dipulau sagu oleh orang-orang Tobelo.

Kemudian, dihimpunlah pasukan untuk menyerang orang-orang tobelo. Akan tetapi, jumlah pasukan kalah dengan jumlah orang-orang tobelo di pulau sagu. Sehingga keempat orang basalo bersama sisa prajurit harus pulang dengan kekalahan.

“ Ampun, Baginda. Kami gagal membawa Tuan putri pulang. Julah pasukan orang Toledo melebihi jumlah pasukan kami ”, lapor salah satu basalo.

Mendengar penuturan tersebut, rasa khawatir sang raja kian memuncak. Ia berpikir keras cara untuk membebaskan putrinya. Hingga salah satu basalonya ada yang memberikan usul.

“ Ampun, Baginda. Saya punya usul. Bagaimana kalaukita mengundang Tanduk Alam. Mungkin saja ia dapat membantu ”, usul basalo dari Tano Bununungan.

Tampak sang Raja menimbang-nimbang usul basalo tersebut. Kemudian, ia pun berkata “ Baiklah. Panggil Tanduk Alam untuk menghadapku ”.

“ Baik, Baginda ”, kata para Basalo serempak.                                          

Tanduk Alam adalah seorang ulama yang berasal dari Sumatera Selatan, tepatnya Palembang. Ia merupakan pemuka agama islam yang sedang berdagang sekaligus menyebarkan agama islam ke pulau Sulawesi. Ia tinggal di tanah sea-sea sebagai tukang emas dan pembuat perhiasan. Dari desa ke desa, Tanduk Alam menjajakan barang dagangannya itu dan juga menyebarkan agama islam kepada pelanggannya. Kemudian Tanduk Alam tidak hanya dikenal oleh masyarakat biasa, kalangan kerajaan pun sudah mengenalnya.

Kini di hadapan Raja Adi Cokro sudah hadir Tanduk Alam. Kemudian raja pun bercerita tentang putrinya yang diculik dipulau sagu dan ia meminta kesanggupan Tanduk Alam untuk membantu membebaskan putrinya. Tanduk Alam bersedia dengan pasukan. Raja setuju san menyarankan agar para basalonya ikut menemaninya. Akhirnya mereka sepakat, Tanduk Alam berangkat ke pulau sagu bersama keempat Basalo menggunakan Perahu kecil.

Pada keesokan harinya, mereka berangkat dengan pembekalan yang cukup selama perjalanan. Mereka baru sampai dipulau sagu pada saat tengah malam. Didalam perjalanan tadi, mereka telah menyusun rencana bahwa para basalo akan menunggu Tanduk Alam di atas perahu. Sementara Tanduk Alam sendiri yang beraksi menyelamatkan sang putrid.

Setelah menjejaki pulau sagu, Tanduk Alam kemudian bersila dan dalam sekejap mata ia menghilang. Para basalo melihatnya takjub akan kesaktian dari Tanduk Alam.

Sementara itu Tanduk Alam kini telah berada ditempat dimana putrid disekap. Tampaknya orang-orang tobelo yang bertugas mengawasi sang putrid sedang tertidur. Sehingga Tanduk Alam dapat dengan mudah mengeluarkan sang putri.

Di dalam ruangan penyekapan itu, sang putrid sedang tidur. Tanduk Alam berusaha membangunkannya tanpa membuat penjaga itu ikut terbangun. Ketika membuka mata, sang putrid kaget melihat ada seorang pemuda yang mendekatinya.

“ Siapa kau ? ” Tanya sang putri.

“ Namaku Tanduk Alam. Aku adalah utusan ayah tuan putri, Raja Adi Cokro. Aku ditugaskan untukmembebaskan tuan putri ”.

“ Benarkah itu ? ”

“ Tentu saja. Di luar sudah ada empat basalo yang sedang menunggu kita. Mari sekarang juga kita keluar dari sini ”.

“ Tetapi bagaimana caranya ? ” Tanya sang putri bingung.

“ Tuan putri cukup memejamkan mata saja ”.

Sang Putri menurut dan memejamkan matanya. Tanduk Alam meraih kedua tangan sang putri. Dalam sekejap mereka menghilang dari ruangan itu dan muncul diatas perahu. Para basalo sudah gelisah sejak tadi menantikan kedatangan Tanduk Alam bersama sang putri. Ketika mereka melihat Tanduk Alam dan sang putri sudah berada di atas perahu mereka pun terkejut.

Tanpa berlama-lama mereka pun kembali berlayar menuju Negeri Banggai. Seluruh kerajaan dan rakyat tampak menyambut mereka dengan meriah. Sang raja sangat bahagia dan berterima kasih kepada Tanduk Alam. Sebagai bentuk ucapan terimakasih, Raja Adi Cokro memberikan satu permintaan yang akan dikabulkan. Permintaannya bukan sesuatu yang muluk, iahanya meminta sebidang tanah agar dia dapat menananmi sagu dan durian.


Setelah beberapa lama hasil tanah dari pemberian sang raja dapat dinikmatinya, bahkan hasilnya sangat melimpah. Hasil itu tidak hanya dinikmatinya sendiri, tetapi dapat dinikmati rakyat Negeri Banggai.

No comments:

Post a Comment