Negeri Banggai terletak di Sulawesi Tengah.
Negeri itu dipimpin oleh Raja Adi Cokro. Di bawah kepemimpinannya, Rakyat
Banggai hidup dalam kemakmuran dan selalu tercukupi. Untuk mengatur kerajaan,
raja dibantu oleh empat orang basalo ( pembantu raja ).
Raja Adi Cokro mempunyai seorang
Putri yang sangat disayanginya. Namun, pada suatu hari putrid kesayangannya itu
hilang. Mendengar hal itu Raja Adi Cokro menjadi Gusar. Diperintahkannya para
prajurit dan seluruh rakyatnya untuk menyebar mencari putrinya yang hilang.
Setiap sudut negeri itu sudah ditelusuri, tetapi keberadaan putrid tidak juga
ditemukan.
Ada kabar yang berembus bahwa putrid
telah diculik oleh orang tobelo dari pihak Kerajaan ternate. Sebab kerajaan
Ternate ingin menguasai Negeri Banggai. Untuk itu raja pun memanggil keempat
basalonya. Dalam titahnya, Raja Adi Cokro memerintahkan untuk mencari putrid
yang disekap dipulau sagu oleh orang-orang Tobelo.
Kemudian, dihimpunlah pasukan untuk
menyerang orang-orang tobelo. Akan tetapi, jumlah pasukan kalah dengan jumlah
orang-orang tobelo di pulau sagu. Sehingga keempat orang basalo bersama sisa
prajurit harus pulang dengan kekalahan.
“ Ampun, Baginda. Kami gagal membawa
Tuan putri pulang. Julah pasukan orang Toledo melebihi jumlah pasukan kami ”, lapor
salah satu basalo.
Mendengar penuturan tersebut, rasa
khawatir sang raja kian memuncak. Ia berpikir keras cara untuk membebaskan
putrinya. Hingga salah satu basalonya ada yang memberikan usul.
“ Ampun, Baginda. Saya punya usul.
Bagaimana kalaukita mengundang Tanduk Alam. Mungkin saja ia dapat membantu ”,
usul basalo dari Tano Bununungan.
Tampak sang Raja menimbang-nimbang
usul basalo tersebut. Kemudian, ia pun berkata “ Baiklah. Panggil Tanduk Alam
untuk menghadapku ”.
“ Baik, Baginda ”,
kata para Basalo serempak.
Tanduk Alam adalah
seorang ulama yang berasal dari Sumatera Selatan, tepatnya Palembang. Ia
merupakan pemuka agama islam yang sedang berdagang sekaligus menyebarkan agama
islam ke pulau Sulawesi. Ia tinggal di tanah sea-sea sebagai tukang emas dan
pembuat perhiasan. Dari desa ke desa, Tanduk Alam menjajakan barang dagangannya
itu dan juga menyebarkan agama islam kepada pelanggannya. Kemudian Tanduk Alam
tidak hanya dikenal oleh masyarakat biasa, kalangan kerajaan pun sudah
mengenalnya.
Kini di hadapan
Raja Adi Cokro sudah hadir Tanduk Alam. Kemudian raja pun bercerita tentang
putrinya yang diculik dipulau sagu dan ia meminta kesanggupan Tanduk Alam untuk
membantu membebaskan putrinya. Tanduk Alam bersedia dengan pasukan. Raja setuju
san menyarankan agar para basalonya ikut menemaninya. Akhirnya mereka sepakat,
Tanduk Alam berangkat ke pulau sagu bersama keempat Basalo menggunakan Perahu
kecil.
Pada keesokan
harinya, mereka berangkat dengan pembekalan yang cukup selama perjalanan.
Mereka baru sampai dipulau sagu pada saat tengah malam. Didalam perjalanan
tadi, mereka telah menyusun rencana bahwa para basalo akan menunggu Tanduk Alam
di atas perahu. Sementara Tanduk Alam sendiri yang beraksi menyelamatkan sang putrid.
Setelah menjejaki
pulau sagu, Tanduk Alam kemudian bersila dan dalam sekejap mata ia menghilang.
Para basalo melihatnya takjub akan kesaktian dari Tanduk Alam.
Sementara itu
Tanduk Alam kini telah berada ditempat dimana putrid disekap. Tampaknya
orang-orang tobelo yang bertugas mengawasi sang putrid sedang tertidur.
Sehingga Tanduk Alam dapat dengan mudah mengeluarkan sang putri.
Di dalam ruangan
penyekapan itu, sang putrid sedang tidur. Tanduk Alam berusaha membangunkannya
tanpa membuat penjaga itu ikut terbangun. Ketika membuka mata, sang putrid
kaget melihat ada seorang pemuda yang mendekatinya.
“ Siapa kau ? ”
Tanya sang putri.
“ Namaku Tanduk
Alam. Aku adalah utusan ayah tuan putri, Raja Adi Cokro. Aku ditugaskan
untukmembebaskan tuan putri ”.
“ Benarkah itu ? ”
“ Tentu saja. Di
luar sudah ada empat basalo yang sedang menunggu kita. Mari sekarang juga kita
keluar dari sini ”.
“ Tetapi bagaimana
caranya ? ” Tanya sang putri bingung.
“ Tuan putri cukup
memejamkan mata saja ”.
Sang Putri menurut
dan memejamkan matanya. Tanduk Alam meraih kedua tangan sang putri. Dalam
sekejap mereka menghilang dari ruangan itu dan muncul diatas perahu. Para
basalo sudah gelisah sejak tadi menantikan kedatangan Tanduk Alam bersama sang
putri. Ketika mereka melihat Tanduk Alam dan sang putri sudah berada di atas
perahu mereka pun terkejut.
Tanpa berlama-lama
mereka pun kembali berlayar menuju Negeri Banggai. Seluruh kerajaan dan rakyat
tampak menyambut mereka dengan meriah. Sang raja sangat bahagia dan berterima
kasih kepada Tanduk Alam. Sebagai bentuk ucapan terimakasih, Raja Adi Cokro
memberikan satu permintaan yang akan dikabulkan. Permintaannya bukan sesuatu
yang muluk, iahanya meminta sebidang tanah agar dia dapat menananmi sagu dan
durian.
Setelah beberapa
lama hasil tanah dari pemberian sang raja dapat dinikmatinya, bahkan hasilnya
sangat melimpah. Hasil itu tidak hanya dinikmatinya sendiri, tetapi dapat
dinikmati rakyat Negeri Banggai.
No comments:
Post a Comment