This blog contains all of the things that I like to share including music, culture, experiences and my articles

Search This Blog

Thursday, March 2, 2017

Cerita Rakyat Sulawesi Tengah : Sesentola Si Pemberani

 Hiduplah sepasang suami Istri yang sudah lama menikah,namun belum juga dikaruniai seorang anak. Dalam hatinya, mereka sangat berharap mendapatkan seorang anak yang sudah lama mereka idam-idamkan.

Tidak lama kemudian, sang istri mengandung. Pasangan suami istri itu tampak sangat bahagia menyambut kelahiran anak pertama mereka. Tibalah waktunya bagi sang istri untuk melahirkan. Ternyata anak yang dilahirkan adalah bayi laki-laki yang amat sehat.

Dengan penuh kasih sayang, sang ibu menyusui anaknya. Akan tetapi, ada sedikit keganjilan pada disi sang anak. Sang anak yang dinamakan Sesentola itu, selalu kelaparan. Meskipun air susu ibu sudah habis, ia tetap menangis meminta susu. Oleh karena itu, pasangan suami istri tersebut kebingungan dibuatnya.

Akhirnya dengan terpaksa, Sesentola diberikan bubur walaupun belum cukup umur. Anaknya [un semakin lama bertumbuh besar. Sesentola merupakan anak yang kuat dan nafsu makannya pun semakin meningkat dalam pertumbuhan umurnya. Memasuki usia remaja, sesentola memiliki badan yang cukup besar.

Semakin lama, sang ayah yang sudah tua semakin tak berdaya dibuatnya. Sebab nafsu makan sesentola tak terkendali. Kehidupan mereka yang pas-pasan membuat sang ayah menyusun siasat untuk menyingkirkan sesentola. Meskipun sesentola adalah anak kandungnya, tetapi ia merasa tak sanggup lagi untuk menghidupinya. Lama-kelamaan ia dapat kelaparan akibat nafsu makan sesentola, pikirnya.

Suau hari sang ayah mengajak sesentola untuk membantunya menjala ikan disungai yangbanyak dihuni buaya-buaya besar. Sesampainya disungai, jalanya disebarkan. Dirasa ikan yng dijala sudah cukup banyak yang tersangkut,sang ayah menyuruh sesentola untuk menyelam mengambil jala yang disebar. Sesentola akhirnya menceburkan diri dalam sungai yang tidak diketahui bahwa didalam sungai itu banyak terdapat buaya. Tanpa berlama-lama kemudian, sang ayah kabur meninggalkan sesentola. Ia berharap sesentola mati dimakan buaya.

Dirumah, sang ayah langsung menceritakan peristiwatersebut kepada sang istri. Dengan wajah senang sang suami akhirnya dapat bernafas lega karena kehidupannya tidak akan sesulit ketika masih ada sesentola. Alangkah kagetnya, tiba-tiba terdengar suara sesentola yang memanggil ayahnya.

“ Ayah ! lihatlah bukan ikan yang kudapat, tetapi buaya yang besar ”, kata sesentola bangga.

Sang ayah hanya dapat tercengang melihat anaknya tidak jadi tewas. Malah buaya itu dibunuhnya.

Lalu keesokan harinya sang ayah kembali menyusun siasat agar sesentola dapat dihabisi. Ia ingat bahwa didekat sungai ada sebatang pohon beringin besar. Kemudian, sang ayah mengajak sesentola pergi bersamanya untuk menebang pohon beringin itu. Sesampainya ditempat tujuan, sang ayah menyuruh sesentola berdiri yang jaraknya tidak terlalu jauh dari pohon itu. Setelah ditebang sedikit demi sedikit akhirnya pohon beringin itu tumbang dan tepat mengenai sesentola.

“ sesentola … sesentola … ”, panggil ayahnya.

Akan tetapi tidak ada jawaban. Itu berarti akhirnya sesentola dapat ditewaskan. Dengan langkah ringan, sang ayah kembali pulang ke rumah. Sang istri tampak sedih mendengar cerita sang suami yang begitu bahagianya telah membunuh sesentola.

Terdengar ada suara diluar rumah.

“ ayah, lihat aku membawa pohon beringin yang ayah tebang ”, seru sesentola.

Sang ayah terpekik hampir tidak percaya mendengar suara sesentola yang belum meninggal. Sementara sang ibu sangat sedih melihat sesentola yang jadi sasaran sang ayah terus-menerus.

Sesentola pun akhirnya dapat merasakan niat jahat sang ayah.

“ lebih baik aku pergi saja dari rumah ini. Sepertinya aku sudah tidak diinginkan lagi ”, kata sesentola dalam hati.

Oleh karena itu, sesentola pamit untuk pergi meninggalkan rumah. Ia merantau ke negeri lain agar tidak menyusahkan ayah dan ibunya lagi.

“ ayah, ibu, kalau keberadaanku ini telah membebani kalian, lebih baik aku pergi untuk merantau”, kata sesentola dihadapan kedua orang tuanya.

Sang ibu tampak sedih melepas sesentola. Namun agar sesentola tidak lagi menjadi incaran sang suami, akhirnya sang ibu merelakan juga. Sebelum sesentola pergi, sang ibu memberikan dua buah pusaka untuk menjaga keselamatan sesentola.

“Nak, sebelum kau pergi, bawalah panah bermata tiga dan cincin ini.  Panah ini dapat mengenai organ tubuh yang kau sebut namanya dan cincin ini dapat mengobati dangan cara mencelupkan cincin ini kedalam air dan basuhlah luka dengan air itu. Dan luka itu akan sembuh dengan segera”, papar sang ibu.

Akhirnya, sesentolakeluar dari rumah dan berjalan tak menentu arah. Ia hanya mengikuti laju kakinya melangkah. Hingga sampailah sesentola disebuah negeri yang sangat sepi. Tampak lengang tanpa penghuni. Setelah mengelilinginegeriitu, ada sebuah rumah yang sangat megah. Sesentola berpendapat rumah tersebut mungkin istana negeri itu. Dimasukilah istana itu, dan ada sebuah gendang yang sangat menarik perhatiannya didalam istana itu. Ketika gendang itu akan ditabuh, ada suara yang buru-buru mencegahnya.

“Jangan pukul gendang ini. Ada aku didalamnya ”, kata suara perempuan itu didalamnya. “ Ayo sembunyilah dalam gendang ini ”.

Lalu sesentola menuruti kata orang dalam gendang itu. Setelah masuk dalam gendang, tampak ada seorang perempuan cantik. Setelah berkenalan, sesentola mengetahui gadis itu bernama Lemontoda. Dari penuturan Lemontoda, sesentola mendapat berita bahwa negeri itu diserang oleh beberapa burung garuda besar. Telah banyak rakyat dan keluarga istana yang menjadi korbannya.

Mendengar hal itu, sesentola berniat untuk menghabisi burung garuda yang telah meresahkan itu. Namun Lemontoda mencegahnya.

“ Jangan kau lakukan itu. Lebih baik kita bersembunyi saja. Sebab garuda-garuda itu sangat ganas ”, Kata Lemontada.

Namun sesentola bersikukuh untuk mengahadapi garuda jahat itu. Tidak lama kemudian, ada seekor burung garuda yang datang. Garuda itu dapat mencium keberadaan dua anak manusia  itu. Karena sudah terbongkar dari persembunyiannya. Sesentola akhirnya keluar dan mengarahkan penahnya kepada garuda itu seraya membaca mantra dan menyebut bagian mata garuda itu. Panah ajaib itu tidak meleset. Mata garuda terluka dan akhirnya garuda itu mati.

Mengetahui anggotanya ada yang mati, membuat Raja Garuda yang bernama Vendebulava marah. Diperintahkanlah anak buahnya yang bernama  Vandease untuk menghabisi nyawa pemuda yang telah merenggut nyawa teman mereka.

Vandese pergi ke tempat dimana sesentola dan gadis itu berada. Sesentola pun sudah bersiap sebelumnya karena ia telah mengetahui akan mendapat serangan dari garuda lainnya. Dengan sigap busurnya diangkat dan mata panahnya diarahkan pada kening. Matilah burung garuda itu.

“berhati-hatilah ! tidak lama lagi Raja Garuda akan datang ”, kata Lemontada.

“ Aku berpesan, jika nanti aku pingsan tolong usapkan air yang telah direndam oleh cincin ini pada mataku ”, kata sesentola.

Kemudian, Raja garuda yang ditunggu-tunggu datang. Sesentola mengarahkan panahnya pada leher sang garuda. Namun sebelum akhirnya tewas, raja garuda itu sempat menerkam sesentolah hingga pingsan. Seperti pesan sesentola sebelumnya, Lemontada membasuhkan air rendaman cincin bertuah ini pada mata sesentola. Akhirnya ia kembali sadar.

Sesentola yang jatuh cinta kepada Lemontada pun mengajaknya menikah. Lemontada mau menikah dengan sesentola dengan satu syarat.

“ Aku ingin kau menghidupkan orang tuaku dan rakyatku ”, ucap Lemontada.

Dengan mudahnya sesentola menghidupkan seluruh penghuni negeri itu yang telah diserang garuda-garuda tersebut. Lalu, sesentola dan lemontada menikah. Tidak lupa sesentola mengajak serta kedua orang tuanya untuk tinggal di dalam istana.


No comments:

Post a Comment