Hiduplah sepasang
suami Istri yang sudah lama menikah,namun belum juga dikaruniai seorang anak.
Dalam hatinya, mereka sangat berharap mendapatkan seorang anak yang sudah lama
mereka idam-idamkan.
Tidak lama kemudian, sang istri mengandung. Pasangan suami
istri itu tampak sangat bahagia menyambut kelahiran anak pertama mereka.
Tibalah waktunya bagi sang istri untuk melahirkan. Ternyata anak yang
dilahirkan adalah bayi laki-laki yang amat sehat.
Dengan penuh kasih sayang, sang ibu menyusui anaknya. Akan
tetapi, ada sedikit keganjilan pada disi sang anak. Sang anak yang dinamakan
Sesentola itu, selalu kelaparan. Meskipun air susu ibu sudah habis, ia tetap
menangis meminta susu. Oleh karena itu, pasangan suami istri tersebut
kebingungan dibuatnya.
Akhirnya dengan terpaksa, Sesentola diberikan bubur walaupun
belum cukup umur. Anaknya [un semakin lama bertumbuh besar. Sesentola merupakan
anak yang kuat dan nafsu makannya pun semakin meningkat dalam pertumbuhan
umurnya. Memasuki usia remaja, sesentola memiliki badan yang cukup besar.
Semakin lama, sang ayah yang sudah tua semakin tak berdaya
dibuatnya. Sebab nafsu makan sesentola tak terkendali. Kehidupan mereka yang
pas-pasan membuat sang ayah menyusun siasat untuk menyingkirkan sesentola.
Meskipun sesentola adalah anak kandungnya, tetapi ia merasa tak sanggup lagi
untuk menghidupinya. Lama-kelamaan ia dapat kelaparan akibat nafsu makan
sesentola, pikirnya.
Suau hari sang ayah mengajak sesentola untuk membantunya
menjala ikan disungai yangbanyak dihuni buaya-buaya besar. Sesampainya
disungai, jalanya disebarkan. Dirasa ikan yng dijala sudah cukup banyak yang
tersangkut,sang ayah menyuruh sesentola untuk menyelam mengambil jala yang
disebar. Sesentola akhirnya menceburkan diri dalam sungai yang tidak diketahui
bahwa didalam sungai itu banyak terdapat buaya. Tanpa berlama-lama kemudian,
sang ayah kabur meninggalkan sesentola. Ia berharap sesentola mati dimakan
buaya.
Dirumah, sang ayah langsung menceritakan peristiwatersebut
kepada sang istri. Dengan wajah senang sang suami akhirnya dapat bernafas lega
karena kehidupannya tidak akan sesulit ketika masih ada sesentola. Alangkah
kagetnya, tiba-tiba terdengar suara sesentola yang memanggil ayahnya.
“ Ayah ! lihatlah bukan ikan yang kudapat, tetapi buaya yang
besar ”, kata sesentola bangga.
Sang ayah hanya dapat tercengang melihat anaknya tidak jadi
tewas. Malah buaya itu dibunuhnya.
Lalu keesokan harinya sang ayah kembali menyusun siasat agar
sesentola dapat dihabisi. Ia ingat bahwa didekat sungai ada sebatang pohon
beringin besar. Kemudian, sang ayah mengajak sesentola pergi bersamanya untuk
menebang pohon beringin itu. Sesampainya ditempat tujuan, sang ayah menyuruh
sesentola berdiri yang jaraknya tidak terlalu jauh dari pohon itu. Setelah
ditebang sedikit demi sedikit akhirnya pohon beringin itu tumbang dan tepat
mengenai sesentola.
“ sesentola … sesentola … ”, panggil ayahnya.
Akan tetapi tidak ada jawaban. Itu berarti akhirnya
sesentola dapat ditewaskan. Dengan langkah ringan, sang ayah kembali pulang ke
rumah. Sang istri tampak sedih mendengar cerita sang suami yang begitu
bahagianya telah membunuh sesentola.
Terdengar ada suara diluar rumah.
“ ayah, lihat aku membawa pohon beringin yang ayah tebang ”,
seru sesentola.
Sang ayah terpekik hampir tidak percaya mendengar suara
sesentola yang belum meninggal. Sementara sang ibu sangat sedih melihat
sesentola yang jadi sasaran sang ayah terus-menerus.
Sesentola pun akhirnya dapat merasakan niat jahat sang ayah.
“ lebih baik aku pergi saja dari rumah ini. Sepertinya aku
sudah tidak diinginkan lagi ”, kata sesentola dalam hati.
Oleh karena itu, sesentola pamit untuk pergi meninggalkan
rumah. Ia merantau ke negeri lain agar tidak menyusahkan ayah dan ibunya lagi.
“ ayah, ibu, kalau keberadaanku ini telah membebani kalian,
lebih baik aku pergi untuk merantau”, kata sesentola dihadapan kedua orang
tuanya.
Sang ibu tampak sedih melepas sesentola. Namun agar
sesentola tidak lagi menjadi incaran sang suami, akhirnya sang ibu merelakan
juga. Sebelum sesentola pergi, sang ibu memberikan dua buah pusaka untuk
menjaga keselamatan sesentola.
“Nak, sebelum kau pergi, bawalah panah bermata tiga dan
cincin ini. Panah ini dapat mengenai
organ tubuh yang kau sebut namanya dan cincin ini dapat mengobati dangan cara
mencelupkan cincin ini kedalam air dan basuhlah luka dengan air itu. Dan luka
itu akan sembuh dengan segera”, papar sang ibu.
Akhirnya, sesentolakeluar dari rumah dan berjalan tak
menentu arah. Ia hanya mengikuti laju kakinya melangkah. Hingga sampailah
sesentola disebuah negeri yang sangat sepi. Tampak lengang tanpa penghuni.
Setelah mengelilinginegeriitu, ada sebuah rumah yang sangat megah. Sesentola
berpendapat rumah tersebut mungkin istana negeri itu. Dimasukilah istana itu,
dan ada sebuah gendang yang sangat menarik perhatiannya didalam istana itu.
Ketika gendang itu akan ditabuh, ada suara yang buru-buru mencegahnya.
“Jangan pukul gendang ini. Ada aku didalamnya ”, kata suara
perempuan itu didalamnya. “ Ayo sembunyilah dalam gendang ini ”.
Lalu sesentola menuruti kata orang dalam gendang itu.
Setelah masuk dalam gendang, tampak ada seorang perempuan cantik. Setelah
berkenalan, sesentola mengetahui gadis itu bernama Lemontoda. Dari penuturan
Lemontoda, sesentola mendapat berita bahwa negeri itu diserang oleh beberapa
burung garuda besar. Telah banyak rakyat dan keluarga istana yang menjadi
korbannya.
Mendengar hal itu, sesentola berniat untuk menghabisi burung
garuda yang telah meresahkan itu. Namun Lemontoda mencegahnya.
“ Jangan kau lakukan itu. Lebih baik kita bersembunyi saja.
Sebab garuda-garuda itu sangat ganas ”, Kata Lemontada.
Namun sesentola bersikukuh untuk mengahadapi garuda jahat
itu. Tidak lama kemudian, ada seekor burung garuda yang datang. Garuda itu
dapat mencium keberadaan dua anak manusia
itu. Karena sudah terbongkar dari persembunyiannya. Sesentola akhirnya
keluar dan mengarahkan penahnya kepada garuda itu seraya membaca mantra dan
menyebut bagian mata garuda itu. Panah ajaib itu tidak meleset. Mata garuda
terluka dan akhirnya garuda itu mati.
Mengetahui anggotanya ada yang mati, membuat Raja Garuda
yang bernama Vendebulava marah. Diperintahkanlah anak buahnya yang bernama Vandease untuk menghabisi nyawa pemuda yang
telah merenggut nyawa teman mereka.
Vandese pergi ke tempat dimana sesentola dan gadis itu
berada. Sesentola pun sudah bersiap sebelumnya karena ia telah mengetahui akan
mendapat serangan dari garuda lainnya. Dengan sigap busurnya diangkat dan mata
panahnya diarahkan pada kening. Matilah burung garuda itu.
“berhati-hatilah ! tidak lama lagi Raja Garuda akan datang
”, kata Lemontada.
“ Aku berpesan, jika nanti aku pingsan tolong usapkan air
yang telah direndam oleh cincin ini pada mataku ”, kata sesentola.
Kemudian, Raja garuda yang ditunggu-tunggu datang. Sesentola
mengarahkan panahnya pada leher sang garuda. Namun sebelum akhirnya tewas, raja
garuda itu sempat menerkam sesentolah hingga pingsan. Seperti pesan sesentola
sebelumnya, Lemontada membasuhkan air rendaman cincin bertuah ini pada mata
sesentola. Akhirnya ia kembali sadar.
Sesentola yang jatuh cinta kepada Lemontada pun mengajaknya
menikah. Lemontada mau menikah dengan sesentola dengan satu syarat.
“ Aku ingin kau menghidupkan orang tuaku dan rakyatku ”,
ucap Lemontada.
Dengan mudahnya sesentola menghidupkan seluruh penghuni
negeri itu yang telah diserang garuda-garuda tersebut. Lalu, sesentola dan
lemontada menikah. Tidak lupa sesentola mengajak serta kedua orang tuanya untuk
tinggal di dalam istana.
No comments:
Post a Comment