Dahulu disebuah desa bernama Bulili ada tiga orang panglima
perang yang termasyhur. Pemimpin perang itu disebut tadulako. Ketiganya bertuga
untuk melindungi desa Bulili dari segala macam ancaman yang datang. Mereka
adalah bantaili, Makeku, dan molove.
Didesa yang sama juga ada seorang gadis cantik yang bernama
moro. Kecantikannya sudah tersebar ke penjuru negeri. Tampaknya kabar itu
sampai ketelinga Raja Sigi. Lalu, diutuslah beberapa pengikutnya ke desa Bulili
untukmeminangkan Moro.
Sesampainya di desa Bulili, para utusan itu langsung
menyampaikan maksud dan tujuan mereka kepada orang tua Moro. Dalam adat, orang
tua Moro harus mengikutsertakan tadulako untuk memutuskan pinangan itu. Setelah
mengundang ketiga tadulako tersebut maka terjadilah perundingan. Hasilnya, dari
pihak orang tua moro dan ketiga tadulako setuju untuk menikahkan Moro dengan
Raja Sigi.
Para utusan itu menyambut dengan gembira akan keputusan itu
adan menyampaikannya ke raja mereka. Tentu saja Raja Sigi ikut senang. Ia pun
menyuruh para pengikutnya menyiapkan segala keperluan dalam pesta
pernikahannya.
Kemudian pesta pernikahan Raja Sigi dan Moro dilangsungkan
secara besar-besaran. Pernikahan itu berlangsung meriah. Penduduk desa bulili
juga turut senang atas pernikahan keduanya.
Raja Sigi tinggal didesa istrinya Desa Bulili. Namun setelah
beberapa bulan pernikahan mereka terjadi percekcokan. Kerap kali adu pendapat
terjadi dalam rumah tangga mereka. Sehingga membuat Raja Sigi tidak betah
tinggal berlama-lama di Desa Bulili. Saat ini Moro sedang mengandung tujuh
bulan. Hal itu pula yang membuat Raja Sigi memikirkan ulang rencana
meninggalkan Desa Bulili. Akantetapi, rencana itu sangat kuat untuk segera
pergi dari Desa bulili. Pada suatu kesempatan Raja Sigi membujuk istrinya agar
mengizinkannya pergi sementara waktu.
“ Dinda, sudah cukup lama kanda meninggalkan Istana Sigi.
Terlebih lagi ada kabar mengatakan Sigi sedang dalam bahaya. Oleh karena itu,
kanda ingin berkunjung ke Istana Sigi untuk sementara waktu”, bujuk Raja Sigi
kepada Istrinya.
Dengan berat hati Moro melepas kepergian Raja Sigi. Waktu
pun berselang hingga Moro melahirkan seorang bayi bayi laki-laki yang tampan.
Namun hatinya sedih karena suaminya tidak ada disampingnya saat ia melahirkan.
Para penduduk pun bertanya-tanya tentang keberadaan suaminya itu. Sehingga Moro
tidak dapat menahan air mata kesedihannya.
Untuk itulah, Tadulako Bantaili dan Makeku berangkat ke
istana Sigi sekaligus menyampaikan kabar kelahiran anaknya. Namun, mereka
mendapatkan sambutan yang dingin dari Raja Sigi.
“ Mau apa kalian ke istanaku ? ” Tanya Raja Sigi angkuh
sambil berkacak pinggang.
“ Ampun, Paduka. Bolehkahkami menyampaikan berita ini
didalam istana ? ” pinta Bantaili.
“ Tidak perlu. Kalaupun mau bicara disini saja ”, kata Raja
Sigi kasar.
“ Baiklah kalau itu kemauan Paduka. Kami ingin menyampaikan
bahwa putra paduka telah lahir. Karena itulah kami datang kemari untuk meminta
lumbung padi bagi putra paduka ”.
Raja Sigi tidak menampakkan kegembiraan mendengar berita
tersebut dan menuduhnya telah berbohong tentang kelahiran putranya. Awalnya
Raja Sigi tidak memberikan lumbung padi yang diminta kedua Tadulako tersebut.
Namun setelah dipikir-pikir lumbung padi dibelakang istananya tidak akan
mungkin kuat untuk dibawa oleh dua orang Tadulako. Sebab untuk menggeser
lumbung padi itu saja membutuhkan puluhan orang. Lalu, Raja Sigi yang telah
meremehkan kedua Tadulako itu mengizinkan membawa salah satu lumbung padi
miliknya.
Setelah menunjukkan tempat lumbung padi itu berada, kedua
tadulako itu memilih membawa lumbung padi yang paling besar dan masih penuh
isinya. Bantaili mengeluarkan kesaktiannya, maka dengan mudahnya lumbung padi
tersebut dapat diangkatnya. Sedangkan Makeku berada dibelakang untuk
mengawalnya.
Raja Sigi kaget karena telah salah menilai kemampuan kedua
Tadulako itu. Segera ia memanggil pengawalnya.
“ Pengawal tangkap kedua Tadulako itu. Mereka telah mencuri
lumbung padi kita”, Perintah Raja Sigi.
Para pengawal mengejar kedua Tadulako itu. Akan tetapi
ditepi sungai yang dalam, mereka tidak dapat mengejarnya lagi. Sebab kedua
Tadulako tersebut menggunakan kesaktiannya untuk menyebrangi sungai itu. Kedua
Tadulako itu pun berhasil lolos dari kejaran anak buah Raja Sigi.
Raja Sigi geram dan menyusun siasat untuk menjebak para Tadulako
itu. Suatu hari ketika Tadulako itu diundang untuk dijamu makan ke tempat yang
cukup jauh dari desa Bulili. Tanpa curiga sedikitpun ketigannya memenuhi
undangan dari Raja Sigi tersebut.
Bantaili dan Molove tampak menikmati hidanganyang disajikan
oleh Raja Sigi. Sementara Makeku merasa sangat gelisah. Seolah-olah ada sesuatu
yang mengganjal dihatinya.
“ Makeku, tampaknya kau tidak menyentuh makananmu”, bisik
Bantaili.
“ Aku mendapat firasat buruk. Ayo kita tinggalkan saja
tempat ini ”, kata Makeku.
“ Apa maksudmu ? Aku tidak mengerti ”, kata Bantaili
bingung.
“ Lihatlah ! Ada abu dipakaian kebesaran Bulili di pahaku,
ini menandakan Bulilisedang dalam bahaya”.
Tanpa berpamitan dengan Raja Sigi, ketiga Tadulako itu pun
meninggalkan tempat perjamuan. Mereka yakin saat itu para pengawal Sigi sedang
menggiring Penduduk Bulili ke Negeri Sigi. Hal tersebut tidak boleh dibiarkan,
mereka harus membawa seluruh penduduk Bulili kembali ke desa tanpa kekurangan suatu
apapun. Sejak saat itu Raja Sigi tidak pernah mengganggu kehidupan Desa Bulili
No comments:
Post a Comment