This blog contains all of the things that I like to share including music, culture, experiences and my articles

Search This Blog

Thursday, March 2, 2017

Cerita Rakyat Sulawesi Tengah : Tadulako Bulili

Dahulu disebuah desa bernama Bulili ada tiga orang panglima perang yang termasyhur. Pemimpin perang itu disebut tadulako. Ketiganya bertuga untuk melindungi desa Bulili dari segala macam ancaman yang datang. Mereka adalah bantaili, Makeku, dan molove.

Didesa yang sama juga ada seorang gadis cantik yang bernama moro. Kecantikannya sudah tersebar ke penjuru negeri. Tampaknya kabar itu sampai ketelinga Raja Sigi. Lalu, diutuslah beberapa pengikutnya ke desa Bulili untukmeminangkan Moro.

Sesampainya di desa Bulili, para utusan itu langsung menyampaikan maksud dan tujuan mereka kepada orang tua Moro. Dalam adat, orang tua Moro harus mengikutsertakan tadulako untuk memutuskan pinangan itu. Setelah mengundang ketiga tadulako tersebut maka terjadilah perundingan. Hasilnya, dari pihak orang tua moro dan ketiga tadulako setuju untuk menikahkan Moro dengan Raja Sigi.

Para utusan itu menyambut dengan gembira akan keputusan itu adan menyampaikannya ke raja mereka. Tentu saja Raja Sigi ikut senang. Ia pun menyuruh para pengikutnya menyiapkan segala keperluan dalam pesta pernikahannya.

Kemudian pesta pernikahan Raja Sigi dan Moro dilangsungkan secara besar-besaran. Pernikahan itu berlangsung meriah. Penduduk desa bulili juga turut senang atas pernikahan keduanya.

Raja Sigi tinggal didesa istrinya Desa Bulili. Namun setelah beberapa bulan pernikahan mereka terjadi percekcokan. Kerap kali adu pendapat terjadi dalam rumah tangga mereka. Sehingga membuat Raja Sigi tidak betah tinggal berlama-lama di Desa Bulili. Saat ini Moro sedang mengandung tujuh bulan. Hal itu pula yang membuat Raja Sigi memikirkan ulang rencana meninggalkan Desa Bulili. Akantetapi, rencana itu sangat kuat untuk segera pergi dari Desa bulili. Pada suatu kesempatan Raja Sigi membujuk istrinya agar mengizinkannya pergi sementara waktu.

“ Dinda, sudah cukup lama kanda meninggalkan Istana Sigi. Terlebih lagi ada kabar mengatakan Sigi sedang dalam bahaya. Oleh karena itu, kanda ingin berkunjung ke Istana Sigi untuk sementara waktu”, bujuk Raja Sigi kepada Istrinya.

Dengan berat hati Moro melepas kepergian Raja Sigi. Waktu pun berselang hingga Moro melahirkan seorang bayi bayi laki-laki yang tampan. Namun hatinya sedih karena suaminya tidak ada disampingnya saat ia melahirkan. Para penduduk pun bertanya-tanya tentang keberadaan suaminya itu. Sehingga Moro tidak dapat menahan air mata kesedihannya.

Untuk itulah, Tadulako Bantaili dan Makeku berangkat ke istana Sigi sekaligus menyampaikan kabar kelahiran anaknya. Namun, mereka mendapatkan sambutan yang dingin dari Raja Sigi.

“ Mau apa kalian ke istanaku ? ” Tanya Raja Sigi angkuh sambil berkacak pinggang.

“ Ampun, Paduka. Bolehkahkami menyampaikan berita ini didalam istana ? ” pinta Bantaili.

“ Tidak perlu. Kalaupun mau bicara disini saja ”, kata Raja Sigi kasar.

“ Baiklah kalau itu kemauan Paduka. Kami ingin menyampaikan bahwa putra paduka telah lahir. Karena itulah kami datang kemari untuk meminta lumbung padi bagi putra paduka ”.

Raja Sigi tidak menampakkan kegembiraan mendengar berita tersebut dan menuduhnya telah berbohong tentang kelahiran putranya. Awalnya Raja Sigi tidak memberikan lumbung padi yang diminta kedua Tadulako tersebut. Namun setelah dipikir-pikir lumbung padi dibelakang istananya tidak akan mungkin kuat untuk dibawa oleh dua orang Tadulako. Sebab untuk menggeser lumbung padi itu saja membutuhkan puluhan orang. Lalu, Raja Sigi yang telah meremehkan kedua Tadulako itu mengizinkan membawa salah satu lumbung padi miliknya.

Setelah menunjukkan tempat lumbung padi itu berada, kedua tadulako itu memilih membawa lumbung padi yang paling besar dan masih penuh isinya. Bantaili mengeluarkan kesaktiannya, maka dengan mudahnya lumbung padi tersebut dapat diangkatnya. Sedangkan Makeku berada dibelakang untuk mengawalnya.

Raja Sigi kaget karena telah salah menilai kemampuan kedua Tadulako itu. Segera ia memanggil pengawalnya.

“ Pengawal tangkap kedua Tadulako itu. Mereka telah mencuri lumbung padi kita”, Perintah Raja Sigi.

Para pengawal mengejar kedua Tadulako itu. Akan tetapi ditepi sungai yang dalam, mereka tidak dapat mengejarnya lagi. Sebab kedua Tadulako tersebut menggunakan kesaktiannya untuk menyebrangi sungai itu. Kedua Tadulako itu pun berhasil lolos dari kejaran anak buah Raja Sigi.

Raja Sigi geram dan menyusun siasat untuk menjebak para Tadulako itu. Suatu hari ketika Tadulako itu diundang untuk dijamu makan ke tempat yang cukup jauh dari desa Bulili. Tanpa curiga sedikitpun ketigannya memenuhi undangan dari Raja Sigi tersebut.

Bantaili dan Molove tampak menikmati hidanganyang disajikan oleh Raja Sigi. Sementara Makeku merasa sangat gelisah. Seolah-olah ada sesuatu yang mengganjal dihatinya.

“ Makeku, tampaknya kau tidak menyentuh makananmu”, bisik Bantaili.

“ Aku mendapat firasat buruk. Ayo kita tinggalkan saja tempat ini ”, kata Makeku.

“ Apa maksudmu ? Aku tidak mengerti ”, kata Bantaili bingung.

“ Lihatlah ! Ada abu dipakaian kebesaran Bulili di pahaku, ini menandakan Bulilisedang dalam bahaya”.


Tanpa berpamitan dengan Raja Sigi, ketiga Tadulako itu pun meninggalkan tempat perjamuan. Mereka yakin saat itu para pengawal Sigi sedang menggiring Penduduk Bulili ke Negeri Sigi. Hal tersebut tidak boleh dibiarkan, mereka harus membawa seluruh penduduk Bulili kembali ke desa tanpa kekurangan suatu apapun. Sejak saat itu Raja Sigi tidak pernah mengganggu kehidupan Desa Bulili

No comments:

Post a Comment