Kain Tenun Donggala merupakan kain tenun yang sangat
terkenal dan berasal dari Sulawesi Tengah. Kain ini merupakan salah satu
warisan tekstil yang ditinggalkan oleh nenek moyang Suku Kaili yang mendiami
daratan Donggala. Selain kain tenun dikenal pula kain kulit kayu yang terbuat
dari kulit batang pohon dan dibentuk menjadi kain untuk dijadikan pakaian adat
Sulawesi tengah.
Kain tenun Donggala sendiri memiliki banyak jenis dan
diklasifikasikan menurut teknik pembuatan dan corak kainnya, terdapat 6 jenis
kain tenun donggala yaitu :
1.
Kain Pelekat Garusu
Pada pembuatan kain pelekat, janinan benang
lungsi yang vertical disebut benang pusau dan benang pakan horizontal disebut
benang pasua. Jalur benang pusau dan benang pasua terdiri dari kelompok benang
yang berbeda warna. Beberapa warna dalam jalur benang lungsi terdapat juga
dalam benang pakannya. Besar kecilnya jalur benang, disesuaikan dengan bentuk
yang dikehendaki. Silangan jalur vertical dan horizontal akan membentuk kotak
besar. Kotak-kotak itu disebut dam-dam.
Kalau kain pelekat itu mempunyai corak
dominan bentuk kotak-kotak besar, maka kain itu disebut buya tana lapa dan
kalau corak dominan kotak kecil disebut buya gambere.
Corak asli kain pelekat Donggala yaitu
kotak-kotak, dengan warna kombinasi merah muda dan ungu tua. Corak ini disebut
Buya Garusu. Kata Garusu sama untuk sebutan kain sarung dalam bahasa bugis.
Kain sarung bugis dibuat dari benang katun, sesudah diberi semacam kanji,
kemudian digosok dengan kerang supaya licin dan mengkilat ( Ny. Andi N. Sapada,
1977, hal. 2 dan Ma’mun Badarudin, 1978 ). Ada BuyaGarusu yang berjalur emas
pada bagian kepala kainnya yang disebut pucawana.
Motif kain Donggala itu kemudian
dipengaruhi oleh motif kain sarung pelekat Samarinda, Makassar, Bugis, Pekalongan,
Garut, dan lainnya. Sehingga, pengaruh tersebut memperkaya corak kain pelekat
donggala, dan corak yang bukan motif Garusu yang disebut Buya Cura.
Walaupun pelekat donggala mendapatkan
pengaruh dari luar daerahnya tetapi, pelekat donggala juga mempengaruhi wilayah
lain, terutama wilayah Indonesia bagian timur antara lain Sumbawa, Nusa
Tenggara Barat. Di daerah sekitar Bima, Sumbawa banyak penduduknya yang berasal
dari Sulawesi. Menurut keterangan orang-orang bugis yang menetap turun-temurun
di wilayah bima dan Sumbawa salah satu kain sarung pelekatnya bernama pelekat
donggala atau tembe donggala.
Motif Buya Garusu banyak persamaannya
dengan motif kain sarung Samarinda. Kain Samarinda yang dikenal dengan motif
kamumu, dominan warna ungu. Dalam bahasa kaili di Sulawesi tengah, warna ungu
disebut kamumu juga. Persamaan kata untuk sebutan warna yang sama memungkinkan
adanya saling mempengaruhi.
Menurut sejarahnya, kain sarung samarinda
dibuat oleh orang-orang yang berasal dari Sulawesi. Kain pelekat samarinda itu
dibawa dari Sulawesi serta berkembang pada saat bangsawan kerajaan wajo dari
Sulawesi mendiami samarinda seberang.
Pada tahun 1665 terjadi peperangan antara
kerajaan wajo sengkang dan kerajaan bone. Bala tentara bone mendapatkan
kemenangan, sehingga dewankerajaan wajo mengambil keputusan supaya putera
mahklota petta caklurdi ( Menteri luar negeri ) yang bernama La Madukelleng dan
tiga orang puteranya beserta 8 bangsawan menengah dan 20 orang pengiringnya
berangkat menuju kutai. Tetapi karena perahu mereka kehabisan air tawar, maka
berlabuhlah mereka di muara pasir. Ketika pengungsi dari wajo semakin padat,
salah satu bangsawan yang bernama la mohang daeng mangkona mendirikan kota
samarinda seberang dan menjadi pemimpin dengan sebutan pua ado. Kemudian salah
satu putera raja kutai menikah dengan putri
dari kerajaan wajo, sehingga timbullah keturunan campuran Kalimantan
Sulawesi.
2.
Kain Buya Bomba
Dasar dari pembuatan kain buya Bomba ini
yaitu kain tenun dengan teknik ikat. Bomba berarti bunga, yang berarti
motif-motif ikat yang diberi ragam hias motif bunga atau bunga disini dapat
berarti berbagai bentuk ragam hias termasuk diantaranya dalam bentuk bunga.
Kain buya bomba ini mempunyai unsur khas
dalam bentuk corak dan gaya warnanya. Motif-motif hias yang dibuat dengan cara
mengikat banang pakannya kemudian dicelup dalam bahan warna , sebelum ditenun.
Bagian-bagian yang diikat sudah merupakan pola hias yang dikehendaki dan
kemudian dicelupkan kedalam bahan warna. Bagian-bagian yang diikat tetap
mempunyai warna aslinya, yaitu warna asli benangnya ; sedangkan bagian yang
tidak diikat berubah warnanya, sesuai dengan warna celupannya.
Cara mengikat benang untuk ragam hias dalam
proses mencelup ini, sama dengan cara menutup pola hias batik, yaitu dengan
malam atau lilin lebah. Hanya bedanya, jika pada penutupan dengan lilin,
setelah semua proses pencelupan selesai, diakhiri dengan menghilangkan lilin
lebah tadi melalui pengerikan ; sedangkan pada teknik ikat dalam tenun, bagiuan
yang diikat hanya dibuka. Jenis tali pengikat terbuat dari jenis rumput yang disebut daun silar, yang dapat menahan
cairan air tidak masuk kedalam bagian benang yang diikat. Tetapi sekarang
banyak juga menggunakan tali serat sintetis yaitu raffia.
Setelah ditenun, hasil dari pencelupan
menghasilkan bentuk hiasan yang tampak warna diisi dengan warna benang
lungsinya. Kesamaan ini juga karena dasar benang pakannya yang sudah berbentuk
ragam hias berwarna terang atau berwarna muda.
Pada umumnya warna benang lungsi dan benang
pakannya sama, karena kalau warna kedua jenis benang tersebut berbeda, disebut
gumila.
Beberapa cara yang dipakai dalam pemberian
warna celupan dengan pangikat benang, yaitu :
a.
Untuk membuat ragam hias yang terdiri Dari
berbagai macam warna, sebelum dicelup benangnya diikat. Warna putih benang ini
kemudian dioles dengan beberapa warna, misalnya untuk daun diberi olesan warna
hijau, warna merah untuk bunga, tangkai berwarna coklat dan sebagainya.
b.
Kalau seluruh ragam hiasnya hanya dikehendaki
satu warna, misalnya seluruh warna merah saja, maka sebelum diikat, bennag
dicelup terlebih dahulu dengan warna merah. Kemudian mulai diikat-ikat
membentuk ragam hias. Setelah itu dicelup kedalam bahan warna lain untuk
memperoleh warna dasar kain tenunnya.
Corak Ragam hias tersebut menempati bagian terluas dari
seluruh bidang kain dinamakan bagian badan atau sura. Selain itu terdapat
bagian lain yang disebut kepala atau puncana. Perbedaan corak ragam hiasnya
yaitu, pada bagian sura bentuk ragam hiasnya besar-besar. Sedangkan pada bagian
puncana pada umunya lebih kecil dan kadang-kadang diisi dengan berbagai bentuk
ragam hias geometris.
3.
Kain Buya Subi
Pada dasarnya kain sarung buya subi adalah
kain tenun dengan corak hias yang dibuat dengan teknik songket atau sungkit.
Asal kata subi mungkin erat kaitannya dengan kata sungkit, yaitu menyungkitkan
beberapa helai benang atau benang yang disebut benang kumbaja atau benang emas
yang ada diantara benang lungsinya.
Benang yang disisipkan, hasilnya merupkan
benang timbul menyerupai sulaman. Ada dua macam buya subi menurut jenis benang
sungkitnya antara lain :
a.
Buya Subi Sabe, yaitu Buya Subi dengan hiasan
timbul benang sutera aneka warna seperti benang sutera merah, kuning, ungu,
biru dan lainnya.
b.
Buya Subi Kumbaja, yaitu Buya Subi dengan hiasan
timbul benang emas atau perak.
Cara pembuatan buya subi sabe
maupun kumbaja sama, hanya jenis benang ragam hiasnya saja berbeda. Bahan warna
celupan benang lungsi dan benang pakan pada kain subi, sama.
Keunikan kain sarung subi ini
adalah ragam hias bunganya terdiri dari bunga-bunga lepas, seperti disulam satu
persatu, disusun dalam satu jarak tertentu dengan letak yang simetris.
Untuk membuat ragam hias ini,
penenunnya harus menghitung jumlah alu atau alurnya, biasanya pola gambar
dipindahkan dulu pada sehelai kertas, sebagai pedoman. Dari gambar yang
dibentuk silang-silangan garis kecil itu dihitung jumlah alunya, kemudian
diterapkan pada kain tenun yang sedang ditenun, dengan cara menghitung jumlah
helai benang lungsi yang akan diberi selipan benang timbul.
Bentuk ragam hias pada bagian yang
tampak dihadapan penenun menjadi bagian dalam dari kain subi ini dan bentuk
benang timbulnya juga akan tampak pada bagian dalam.
Bagian terluas dari kain sarung
subi terdapat ragam hias kelompok hiasan yang tersebar dan tampak pada bagian
badan kain, bentuk ragam hiasnya lebih besar daripada bagian kepala atau
puncana.
4.
Kain kombinasi Bomba dan Subi
Jenis lain dari kain donggala adalah
kombinasi teknik bomba dan subi. Proses pembuatan teknik ini dikerjakan dua
kali. Mula-mula ragam hias bomba diterapkan pada benang-benang diikat, sebelum
dicelup setelah pencelupan warna dasar kain selesai, bagian-bagian yang diikat
dibuka. Bagian yang telah berbentuk hiasan benang timbul emas atau perak.
Bagian ini biasanya diberi olesan warna kuning. Letak benang pakan nupusua yang
sudah diberi ragam hias disusun pada waktu menenunnya, supaya sudah sesuai
dengan bentuknya; kemudian bagian yang berwarna kuning disungkitkan benang
timbul sabe atau kumbaja.
5.
Kain Buya Bomba Kota
Yang dimaksud dengan kain Buya Bomba kota
yaitu kain dengan bentuk motif hiasan kotak-kotak khusus, bentuk ini dapat
dibuat dengan cara mengikat benang yang vertical atau benang lungsi dan benang
yang horizontal atau benang pakan.
Teknik mengikat kedua arah benang tersebut
dinamakan juga tenunikat berganda atau dobel ikat. Bagian-bagian yang diikat,
sebelum dicelup kedalam warna celupan merupakan bagian yang membentuk ragam
hias pada kain tenunnya. Walaupun donggala menghasilkan tenun dobel ikat, namun
coraknya hanya berbentuk silangan jalur vertical dan jalur horizontal saja,
yang membentuk kotak-kotak.
Tenun dobel ikat bomba kota pada saat ini
jarang terdapat lagi. Menurut keterangan para informan, tenun ikat ragam hias
bomba kota ini hampir-hampir tidak ada lagi, mungkin salah satu alasannya
karena proses pembuatannya yang memakan waktu cukup lama.
6.
Kain Buya Awi
Kain Buya Awi adalah kain panjang yang dibuat
terdiri dari satu warna benang celupan, tanpa ragam hias. Warnanya polos,
kuning hijau, merah, ungu dan lain-lain. Kain buya awi merupakan suatu unsur
kain yang khas di Sulawesi tengah yang tidak dipergunakan sebagai bahan pakaian
tetapi khususnya dimanfaatkan untuk perlengkapan tidur, yaitu sebagai selimut.
Didalam sebuah rumah yang memiliki lebih
dari satu buya awi, sesuai dengan jumlah anggota keluarganya. Selain dipakai
sehari-hari sebagai selimu tidur, ada juga beberapa helai disimpan untuk selimut
bagi tamuyang menginap. Untuk pengantn dibuat khusus sepasang buya awi. Juga
untuk para gadis, dibuat buya awi dengan warna yang menarik. Sebagai
bahanselimut, buya awi ini tidak begitu tebal, bahkan lebih banyak yang
menyukai bahan yang tipis ( benang katun ). Ukurannya sama dengan lebar kain
sarung, hanya panjangnya ada sekitar 180 cm dan ada pula yang lebih dari 2
meter.
Untuk menambah keindahan kain panjang ini
diberi hiasan renda-renda dan jalinan tali benang perak yang menutupi bagian
sambungan kainnya. Hiasan ini terdapat dibagian tengah yang memotong ujung atas
dan ujung bawah kain dan pada bagian tengah, sisi kiri dan kanan kain panjang,
sebagai penutup sambujngan jahitan kain sarung ( awi ) tersebut.
Saya ijin copas buat tugas sekolah ya
ReplyDelete