This blog contains all of the things that I like to share including music, culture, experiences and my articles

Search This Blog

Monday, March 20, 2017

Mengenal lebih dekat Jenis-jenis Kain Tenun Donggala

Kain Tenun Donggala merupakan kain tenun yang sangat terkenal dan berasal dari Sulawesi Tengah. Kain ini merupakan salah satu warisan tekstil yang ditinggalkan oleh nenek moyang Suku Kaili yang mendiami daratan Donggala. Selain kain tenun dikenal pula kain kulit kayu yang terbuat dari kulit batang pohon dan dibentuk menjadi kain untuk dijadikan pakaian adat Sulawesi tengah.

Kain tenun Donggala sendiri memiliki banyak jenis dan diklasifikasikan menurut teknik pembuatan dan corak kainnya, terdapat 6 jenis kain tenun donggala yaitu :

1.       Kain Pelekat Garusu

Pada pembuatan kain pelekat, janinan benang lungsi yang vertical disebut benang pusau dan benang pakan horizontal disebut benang pasua. Jalur benang pusau dan benang pasua terdiri dari kelompok benang yang berbeda warna. Beberapa warna dalam jalur benang lungsi terdapat juga dalam benang pakannya. Besar kecilnya jalur benang, disesuaikan dengan bentuk yang dikehendaki. Silangan jalur vertical dan horizontal akan membentuk kotak besar. Kotak-kotak itu disebut dam-dam.

Kalau kain pelekat itu mempunyai corak dominan bentuk kotak-kotak besar, maka kain itu disebut buya tana lapa dan kalau corak dominan kotak kecil disebut buya gambere.

Corak asli kain pelekat Donggala yaitu kotak-kotak, dengan warna kombinasi merah muda dan ungu tua. Corak ini disebut Buya Garusu. Kata Garusu sama untuk sebutan kain sarung dalam bahasa bugis. Kain sarung bugis dibuat dari benang katun, sesudah diberi semacam kanji, kemudian digosok dengan kerang supaya licin dan mengkilat ( Ny. Andi N. Sapada, 1977, hal. 2 dan Ma’mun Badarudin, 1978 ). Ada BuyaGarusu yang berjalur emas pada bagian kepala kainnya yang disebut pucawana.

Motif kain Donggala itu kemudian dipengaruhi oleh motif kain sarung pelekat Samarinda, Makassar, Bugis, Pekalongan, Garut, dan lainnya. Sehingga, pengaruh tersebut memperkaya corak kain pelekat donggala, dan corak yang bukan motif Garusu yang disebut Buya Cura.

Walaupun pelekat donggala mendapatkan pengaruh dari luar daerahnya tetapi, pelekat donggala juga mempengaruhi wilayah lain, terutama wilayah Indonesia bagian timur antara lain Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Di daerah sekitar Bima, Sumbawa banyak penduduknya yang berasal dari Sulawesi. Menurut keterangan orang-orang bugis yang menetap turun-temurun di wilayah bima dan Sumbawa salah satu kain sarung pelekatnya bernama pelekat donggala atau tembe donggala.

Motif Buya Garusu banyak persamaannya dengan motif kain sarung Samarinda. Kain Samarinda yang dikenal dengan motif kamumu, dominan warna ungu. Dalam bahasa kaili di Sulawesi tengah, warna ungu disebut kamumu juga. Persamaan kata untuk sebutan warna yang sama memungkinkan adanya saling mempengaruhi.

Menurut sejarahnya, kain sarung samarinda dibuat oleh orang-orang yang berasal dari Sulawesi. Kain pelekat samarinda itu dibawa dari Sulawesi serta berkembang pada saat bangsawan kerajaan wajo dari Sulawesi mendiami samarinda seberang.

Pada tahun 1665 terjadi peperangan antara kerajaan wajo sengkang dan kerajaan bone. Bala tentara bone mendapatkan kemenangan, sehingga dewankerajaan wajo mengambil keputusan supaya putera mahklota petta caklurdi ( Menteri luar negeri ) yang bernama La Madukelleng dan tiga orang puteranya beserta 8 bangsawan menengah dan 20 orang pengiringnya berangkat menuju kutai. Tetapi karena perahu mereka kehabisan air tawar, maka berlabuhlah mereka di muara pasir. Ketika pengungsi dari wajo semakin padat, salah satu bangsawan yang bernama la mohang daeng mangkona mendirikan kota samarinda seberang dan menjadi pemimpin dengan sebutan pua ado. Kemudian salah satu putera raja kutai menikah dengan putri  dari kerajaan wajo, sehingga timbullah keturunan campuran Kalimantan Sulawesi.


2.       Kain Buya Bomba

Dasar dari pembuatan kain buya Bomba ini yaitu kain tenun dengan teknik ikat. Bomba berarti bunga, yang berarti motif-motif ikat yang diberi ragam hias motif bunga atau bunga disini dapat berarti berbagai bentuk ragam hias termasuk diantaranya dalam bentuk bunga.

Kain buya bomba ini mempunyai unsur khas dalam bentuk corak dan gaya warnanya. Motif-motif hias yang dibuat dengan cara mengikat banang pakannya kemudian dicelup dalam bahan warna , sebelum ditenun. Bagian-bagian yang diikat sudah merupakan pola hias yang dikehendaki dan kemudian dicelupkan kedalam bahan warna. Bagian-bagian yang diikat tetap mempunyai warna aslinya, yaitu warna asli benangnya ; sedangkan bagian yang tidak diikat berubah warnanya, sesuai dengan warna celupannya.

Cara mengikat benang untuk ragam hias dalam proses mencelup ini, sama dengan cara menutup pola hias batik, yaitu dengan malam atau lilin lebah. Hanya bedanya, jika pada penutupan dengan lilin, setelah semua proses pencelupan selesai, diakhiri dengan menghilangkan lilin lebah tadi melalui pengerikan ; sedangkan pada teknik ikat dalam tenun, bagiuan yang diikat hanya dibuka. Jenis tali pengikat terbuat dari jenis rumput  yang disebut daun silar, yang dapat menahan cairan air tidak masuk kedalam bagian benang yang diikat. Tetapi sekarang banyak juga menggunakan tali serat sintetis yaitu raffia.

Setelah ditenun, hasil dari pencelupan menghasilkan bentuk hiasan yang tampak warna diisi dengan warna benang lungsinya. Kesamaan ini juga karena dasar benang pakannya yang sudah berbentuk ragam hias berwarna terang atau berwarna muda.

Pada umumnya warna benang lungsi dan benang pakannya sama, karena kalau warna kedua jenis benang tersebut berbeda, disebut gumila.

Beberapa cara yang dipakai dalam pemberian warna celupan dengan pangikat benang, yaitu :

a.       Untuk membuat ragam hias yang terdiri Dari berbagai macam warna, sebelum dicelup benangnya diikat. Warna putih benang ini kemudian dioles dengan beberapa warna, misalnya untuk daun diberi olesan warna hijau, warna merah untuk bunga, tangkai berwarna coklat dan sebagainya.
b.      Kalau seluruh ragam hiasnya hanya dikehendaki satu warna, misalnya seluruh warna merah saja, maka sebelum diikat, bennag dicelup terlebih dahulu dengan warna merah. Kemudian mulai diikat-ikat membentuk ragam hias. Setelah itu dicelup kedalam bahan warna lain untuk memperoleh warna dasar kain tenunnya.

Corak Ragam hias tersebut menempati bagian terluas dari seluruh bidang kain dinamakan bagian badan atau sura. Selain itu terdapat bagian lain yang disebut kepala atau puncana. Perbedaan corak ragam hiasnya yaitu, pada bagian sura bentuk ragam hiasnya besar-besar. Sedangkan pada bagian puncana pada umunya lebih kecil dan kadang-kadang diisi dengan berbagai bentuk ragam hias geometris.

3.       Kain Buya Subi

Pada dasarnya kain sarung buya subi adalah kain tenun dengan corak hias yang dibuat dengan teknik songket atau sungkit. Asal kata subi mungkin erat kaitannya dengan kata sungkit, yaitu menyungkitkan beberapa helai benang atau benang yang disebut benang kumbaja atau benang emas yang ada diantara benang lungsinya.

Benang yang disisipkan, hasilnya merupkan benang timbul menyerupai sulaman. Ada dua macam buya subi menurut jenis benang sungkitnya antara lain :

a.       Buya Subi Sabe, yaitu Buya Subi dengan hiasan timbul benang sutera aneka warna seperti benang sutera merah, kuning, ungu, biru dan lainnya.

b.      Buya Subi Kumbaja, yaitu Buya Subi dengan hiasan timbul benang emas atau perak.

Cara pembuatan buya subi sabe maupun kumbaja sama, hanya jenis benang ragam hiasnya saja berbeda. Bahan warna celupan benang lungsi dan benang pakan pada kain subi, sama.

Keunikan kain sarung subi ini adalah ragam hias bunganya terdiri dari bunga-bunga lepas, seperti disulam satu persatu, disusun dalam satu jarak tertentu dengan letak yang simetris.

Untuk membuat ragam hias ini, penenunnya harus menghitung jumlah alu atau alurnya, biasanya pola gambar dipindahkan dulu pada sehelai kertas, sebagai pedoman. Dari gambar yang dibentuk silang-silangan garis kecil itu dihitung jumlah alunya, kemudian diterapkan pada kain tenun yang sedang ditenun, dengan cara menghitung jumlah helai benang lungsi yang akan diberi selipan benang timbul.

Bentuk ragam hias pada bagian yang tampak dihadapan penenun menjadi bagian dalam dari kain subi ini dan bentuk benang timbulnya juga akan tampak pada bagian dalam.

Bagian terluas dari kain sarung subi terdapat ragam hias kelompok hiasan yang tersebar dan tampak pada bagian badan kain, bentuk ragam hiasnya lebih besar daripada bagian kepala atau puncana.

4.       Kain kombinasi Bomba dan Subi
Jenis lain dari kain donggala adalah kombinasi teknik bomba dan subi. Proses pembuatan teknik ini dikerjakan dua kali. Mula-mula ragam hias bomba diterapkan pada benang-benang diikat, sebelum dicelup setelah pencelupan warna dasar kain selesai, bagian-bagian yang diikat dibuka. Bagian yang telah berbentuk hiasan benang timbul emas atau perak. Bagian ini biasanya diberi olesan warna kuning. Letak benang pakan nupusua yang sudah diberi ragam hias disusun pada waktu menenunnya, supaya sudah sesuai dengan bentuknya; kemudian bagian yang berwarna kuning disungkitkan benang timbul sabe atau kumbaja.

5.       Kain Buya Bomba Kota

Yang dimaksud dengan kain Buya Bomba kota yaitu kain dengan bentuk motif hiasan kotak-kotak khusus, bentuk ini dapat dibuat dengan cara mengikat benang yang vertical atau benang lungsi dan benang yang horizontal atau benang pakan.

Teknik mengikat kedua arah benang tersebut dinamakan juga tenunikat berganda atau dobel ikat. Bagian-bagian yang diikat, sebelum dicelup kedalam warna celupan merupakan bagian yang membentuk ragam hias pada kain tenunnya. Walaupun donggala menghasilkan tenun dobel ikat, namun coraknya hanya berbentuk silangan jalur vertical dan jalur horizontal saja, yang membentuk kotak-kotak.

Tenun dobel ikat bomba kota pada saat ini jarang terdapat lagi. Menurut keterangan para informan, tenun ikat ragam hias bomba kota ini hampir-hampir tidak ada lagi, mungkin salah satu alasannya karena proses pembuatannya yang memakan waktu cukup lama.

6.       Kain Buya Awi

Kain Buya Awi adalah kain panjang yang dibuat terdiri dari satu warna benang celupan, tanpa ragam hias. Warnanya polos, kuning hijau, merah, ungu dan lain-lain. Kain buya awi merupakan suatu unsur kain yang khas di Sulawesi tengah yang tidak dipergunakan sebagai bahan pakaian tetapi khususnya dimanfaatkan untuk perlengkapan tidur, yaitu sebagai selimut.

Didalam sebuah rumah yang memiliki lebih dari satu buya awi, sesuai dengan jumlah anggota keluarganya. Selain dipakai sehari-hari sebagai selimu tidur, ada juga beberapa helai disimpan untuk selimut bagi tamuyang menginap. Untuk pengantn dibuat khusus sepasang buya awi. Juga untuk para gadis, dibuat buya awi dengan warna yang menarik. Sebagai bahanselimut, buya awi ini tidak begitu tebal, bahkan lebih banyak yang menyukai bahan yang tipis ( benang katun ). Ukurannya sama dengan lebar kain sarung, hanya panjangnya ada sekitar 180 cm dan ada pula yang lebih dari 2 meter.


Untuk menambah keindahan kain panjang ini diberi hiasan renda-renda dan jalinan tali benang perak yang menutupi bagian sambungan kainnya. Hiasan ini terdapat dibagian tengah yang memotong ujung atas dan ujung bawah kain dan pada bagian tengah, sisi kiri dan kanan kain panjang, sebagai penutup sambujngan jahitan kain sarung ( awi ) tersebut.

1 comment: