“My
library is an archive of longings.” ― Susan
Sontag, As Consciousness is Harnessed to Flesh: Journals and
Notebooks, 1964-1980
Quotes
tersebut merupakan alasan terkuat mengapa saya memulai
kembali menulis blog. Kerinduan akan artikel yang ingin saya sampaikan kepada
pembaca, sharing tentang aktivitas dan informasi yang diarsipkan ke dalam sebuah
cyberspace platform dengan desain template yang sederhana.
Kerinduan itu muncul kembali dibenak saya setelah 4 tahun vakum dan memutuskan
pergi untuk keluar mencari sahabat nyata yang mengajarkan banyak hal tentang
hidup. Bukan hanya sebuah laptop dan secangkir kopi menemani saya yang
biasanya lebih sering melihat postingan orang lain daripada mengembangkan ide
untuk membuat tulisan hebat selayaknya rumus Einstein yang akan menjadi bahan
perbincangan orang-orang di seluruh dunia, Saat itu saya sangat
lesu dan memutuskan untuk membuat jaringan pertemanan di luar rumah
ketimbang berteman postingan informatif dari blog atau website yang mungkin
saja bisa menambah wawasan keilmuan. Sampai pada saat titik balik itu muncul
dengan membawa satu wacana yang bernama “ Sulawesi Tengah” yang sedari awal
sebenarnya ingin menjadi tema dalam blog serta konten saya. Saya terlahir sebagai
orang asli daerah Sulawesi Tengah dan bermaksud
untuk membanggakan daerah. Impian itu
terwujud ketika saya
lulus di tahun 2012 dan mulai mengenai dunia serta
melepas rasa takut saya akan berinteraksi dengan orang di sekitar.
Saya berhasil menjadi delegasi Sulawesi Tengah di berbagai
seleksi, pemilihan, kompetisi, pertukaran, serta forum. Merasa bangga? Pasti. Karena
dengan mengikuti kegiatan postitif tersebut saya merasa satu derajat lebih
tinggi daripada orang Sulawesi Tengah lainnya yang sering berkoar tentang
kecintaan mereka kepada daerahnya. Ajang pasang badan pun membuat saya lupa
akan satu hal yang pada akhirnya merubah sudut pandang saya mengenai identitas
sebenarnya dari seorang pemuda yang harus membangun daerahnya.
Seperti
layaknya Nenek moyang saya yang terlahir sebagai generasi Penutur sejarah, saya
menapakkan kaki pada tempat dimana saya
bisa mengenal teman dan ilmu baru, datang dan belajar tiada habisnya dengan
tujuan untuk lebih mengenal tentang daerah saya. Meriset tentang sejarah,
keberadaan pendatang di daerah, budaya, pariwisata, pola bergaul dan isu terhangat di daerah
ini seakan menjadi Karbohidrat yang saya konsumsi sampai lupa jika semua
informasi tersebut bukan hanya untuk diingat, tetapi juga harus diabadikan. Sayangnya, proses mengabadikan daerah ini menjadi semakin sulit dengan
ketidaktahuan saya menyimpan wadah informasi yang sudah didapatkan.
Setelah
4 tahun mendapatkan ilmu mengenai daerah saya, saya teringat kembali dengan satu
blog usang yang hampir terlupakan keberadaannya. Blog dengan nama
aneh saya buat seperti nama aneh khas anak-anak dizamannya. Seperti Nama aneh
di Facebook atau Twitter, Blog tersebut saya namakan “ Ompongg ” terlihat
seperti nama id twitter salah satu seleb twitter @Poconggg yang menggunakan huruf G di belakang id sebanyak tiga karakter, saya
juga membuat nama Ompongg dengan dua karekter G di belakangnya. Tujuannya biar bisa
terkenal seperti @Poconggg di media yang berbeda.
Mimpi terkenal seperti @Poconggg
kemudian menghilang seketika pada saat saya membuka blog saya kembali dan
berkata “ No. Put that blog in the garbaggio !!
Memalukan ”. Merasa sangat malu, saya berniat untuk menghapus semuanya dan
setelah menghapus berbagai postingan yang menurut saya sangat hiperbolis, saya mulai menulis tentang daerah
saya.
“ Niat baik pasti akan
selalu berhadapan dengan rintangan tersulit ”
Itu
salah satu pepatah buatan sendiri yang selalu saya percayai ketika melakukan sesuatu, termasuk
mengabadikan artikel mengenai daerah saya. Salah satu tantangan terbesarnya
adalah kelemahan otak saya dalam mengingat nama dan peristiwa serta literatur
pendukung tulisan. Saya membutuhkan
literatur untuk membuat tulisan saya terlihat lebih kuat karena mempunyai bukti
ilmiah dan tidak terkesan amatir.
Saya akui, bahwa dalam ingatan saya
terdapat banyak moment luar biasa yang sudah dilewati sejak 4 tahun mencoba
berinteraksi dengan dunia luar, merasakan kecongkakan menjadi orang yang satu
derajat lebih mulia dari orang lain. Mungkin itu cobaan, atau mungkin itu
rintangan yang sudah Tuhan susun untuk membuat saya lebih berusaha lagi dan
memetik hikmah di balik
kejadian tersebut. Walaupun agak kecewa, tetapi saya tetap berusaha dan ternyata
usaha itu
telah membuahkan hasil. Saya teringat dengan salah seorang teman yang mempunyai
kenalan seorang sastrawan dan memiliki mini perpusatakaan. Perpustakaannya
tidak terlalu besar, hanya sebuah ruangan berisi 3-6 rak buku dan literatur
bacaan tentang Sulawesi Tengah dan ketika saya menghubungi orang tersebut, tenyata
dia dengan senang hati memberikan saya jalan untuk kembali mengabadikan moment
4 tahun berharga dan beberapa tulisan tentang Sulawesi Tengah yang bisa dipublikasikan.
Seperti skenario
sinetron-sinetron streaming di televisi swasta saya mendapatkan pelajaran hidup
dari seorang pemilik perpustakaan itu. Beberapa refleksi tentang hidup
diantaranya :
“ Mulailah mengabadikan setiap peristiwa dalam
hidup di dalam sebuah wadah yang nantinya akan
menjadi cerita inspiratif untuk anak cucumu kelak.”
“Rasa hormat dari orang
lain tidak hanya didapatkan melalui prestasi dan penghargaan, tetapi juga
melalui hal kecil yang yang kita jadikan kebiasaan positif dan menjadi tumpuan
untuk orang lain.”
“ Ada cara yang paling
mudah untuk menunjukkkan kecintaan kita tentang Daerah, yaitu memiliki hal itu
dan menunjukkannya dengan rasa bangga.”
Makna dari refleksi itu mengajarkan saya tentang bagaimana
kesukaannya terhadap sesuatu menjadi inspirasi bagi orang-orang. Seorang
penulis, dan membuat perpustakaan sebagai bukti historis untuk keturunannya
sebagai reminder bahwa ditempat itu pernah tinggal seorang sastrawan yang
sangat mencinta hobinya dan mengabadikan kecintaannya dengan membuat tempat
tersebut.
Refleksi yang kedua
bermakna tentang rasa malu terhadap pencapaian saya, yang merasa bangga telah
bepergian dengan membawa identitas kedaerahan saya seakan tidak ada apa-apanya
dibanding dengan seorang yang sederhana dengan bermodalkan sebuah ruang kecil
tapi bisa memberikan manfaat bagi orang lain. Memperkenalkan daerah melalui hal
sederhana yang ia punya sehingga membuat orang lain takjub. Luar biasa
menginspirasi.
Yang ketiga adalah
tentang menunjukkan identitas tidak hanya berbicara tentang berapa banyak
penghargaan yang kita dapatkan, atau seberapa jauh kita melangkah untuk
memperlihatkan kehebatan kita. Tetapi, sebangga apa kita dengan pencapaian kita
sekarang. Memperkenalkan daerah juga bisa dimulai dengan bermodalkan sebuah laptop dan
secangkir kopi tanpa harus berjalan sejauh-jauhnya. Dan dari tulisan di dalam artikel kita bisa membuat
literatur-literatur sederhana, yang tersimpan rapi dalam sebuah perpustakaan cyber
oleh seorang blogger untuk dishare kepada orang lain di luar sana yang belum mengetahui tentang
seperti apa pengalaman yang sudah saya dapatkan dan bagaimana keadaan daerah
saya.
Dan melalui Blog, sekarang saya mendapatkan banyak
keuntungan-keuntungan manis seperti menambah semangat membaca tulisan tentang
Self
experience
memperkenalkan daerah,
Menulis tentang hal-hal yang menarik untuk dijadikan bahan bacaan untuk orang
lain, sebagai sarana
berinteraksi di dunia maya dengan orang baru yang
nantinya akan menjadi penolong untuk saya jika suatu saat saya membutuhkan
bantuan dimasa sulit dan masih banyak lagi kelebihan lainnya yang mungkin tidak
bisa diungkapkan dengan kata-kata. Sehingga sangat tepat jika saya
mendeskripsikan Blog ini
sebagai sesuatu yang lebih dari sebuah perpustakaan Cyber.
“
My Blog is more than just a Library ”
No comments:
Post a Comment