Sepanjang
sejarah musik Indonesia, rekaman musik jazz boleh dibilang tidak pernah
ikut dalam gegap gempitanya jualan puluhan atau ratusan ribu keping.
Beda dengan jenis musik lain, seperti pop, rock, atau dangdut sekalipun.
Di pasar, hanya segelintir album musik jazz terpajang di gerai-gerai
toko kaset. Itu pun artisnya dari tahun ke tahun boleh dibilang itu-itu
saja.
Rekaman musik jazz kebanyakan hanya dilakukan dengan jalan indie alias independen. Dan, tentu, peredaran atau distribusinya pun sangatlah terbatas. Regenerasi di musik jazz Indonesia jalan di tempat. Jarang artis jazz muda yang mampu menancapkan eksistensinya di belantika musik Indonesia. Namun, fenomena itu sebenarnya bukanlah gambaran bahwa anak muda sudah tidak banyak lagi yang menyukai musik yang lahir di New Orleans, Amerika Serikat, itu.
"Sebenarnya
masih banyak anak muda yang menyukai musik jazz. Bahkan, mereka punya
grup dan skill-nya juga bagus-bagus. Sayang, karena tidak ada wadah,
potensi mereka tidak kelihatan," ungkap musikus jazz senior Luluk
Purwanto dalam perbincangan di Hotel Shantika, Jakarta, beberapa hari
silam.
Karena
melihat kenyataan itu, ia bersama suami, Rene van Helsdingen, warga
Belanda yang juga musikus jazz, menggelar kompetisi untuk menjaring
bakat-bakat muda di musik jazz bertajuk Luluk Purwanto & the New
Generation 2006, Mezzo Jazz Award. "Ajang ini adalah sebuah penghargaan
untuk mempromosikan dan mendorong pemusik jazz muda untuk mengejar
impian mereka," ungkap Rene.
Kompetisi
itu memang berbeda cara dengan banyak kompetisi musik lainnya. Di sana
Luluk memberikan kesempatan kepada para peserta yang terpilih untuk
langsung bermain di hadapan publik. "Musisi yang berminat bisa
mengirimkan demo musik mereka. Nah, setelah kita dengar satu per satu,
lebih dari 50 grup terpilih untuk mengikuti tahap praseleksi dan
audisi," ungkap Luluk.
Mereka
yang mengikuti audisi langsung mendapatkan kesempatan untuk bermain di
depan publik di Hotel Shantika, Jakarta. Saat mereka bermain, juri
seperti Luluk dan Rene, juga Benny Mustafa, Benny Likumahua, dan musisi
jazz senior lain, mengadakan penilaian.
Ada
beberapa kriteria penilaian. Selain skill, urusan harmonisasi,
improvisasi, dan interaksi dengan penonton juga penilaian. "Ya, di musik
jazz memang harus ada improvisasi, juga kerja sama dengan personel
lain. Namun, interaksi terhadap penonton juga penting agar musikus jazz
jangan seolah-olah sedang main di studio saja," ungkap Luluk.
Setelah
memerhatikan hal tersebut, nilai tidak langsung diberikan. Para musikus
usai manggung diajak untuk berdiskusi dengan para juri. "Sebab, di
musik itu sebenarnya tidak ada pemenang atau pecundang. Tetapi, mungkin
di mata juri masih ada yang kurang, ini disampaikan kepada para peserta.
Dan hal tersebut didiskusikan," ungkapnya.
Melalui
tahap audisi terpilihlah 14 grup untuk mengikuti tahap kompetisi dalam
jazz competition/concert series yang akan diadakan di beberapa tempat di
seputaran Jakarta, Depok, Bogor, Tangerang, dan Bekasi. Mereka yang
terpilih yakni IGD Yogyakarta, Asteya Trio (Denpasar), DIY (Yogyakarta),
Nu-Vintage (Jakarta), Jass Kidding (Bandung), Irsa Harmonia Quattro
(Jakarta), Jazzyphonic & Friends (Jakarta), 4A.M. (Bandung), Triad
(Tangerang), Quicky (Jakarta), Solvegio (Surabaya) Perfect Fifth
(Jakarta), Vishnu Jazz Trio (Surabaya), dan Herzog (Yogyakarta).
Mulai
24 Agustus sampai 11 September mendatang, Luluk Purwanto & the
Helsdingen Trio akan mengadakan 16 konser di Jakarta dan sekitarnya
(Jabotabek). Rangkaian konser tersebut diadakan di stage bus, sebuah bus
yang telah dimodifikasi menjadi sebuah panggung musik. Di bus panggung,
Luluk & the Helsdingen Trio memang sudah menjelajah berbagai daerah
di Indonesia dan mancanegara.
"Kita
pernah bermain di kampus-kampus, bahkan di pesantren. Jadi bus ini
memang sudah kita bawa keliling dunia. Bahkan, pernah kita tur di 76
kota di Amerika dengan menjelajah sejauh 50 ribu kilometer," ungkap
Luluk.
Menurut
Rene, di setiap tempat, mereka akan mengajak satu finalis untuk
mempertunjukkan kebolehannya dalam bermain musik jazz. "Di tahap ini,
selain kita yang menilai, penonton juga akan kita beri lembar penilaian
untuk ikutan memberikan nilai. Meski memang penilaian dari penonton
hanya 25%, 75% adalah penilaian juri," ujar Rene. Pada awal 10 September
mendatang, 14 finalis akan tampil bersama di London School.
Di
sana para finalis akan dinilai musikus-musikus jazz senior. Untuk
hadiah, pemenang akan memperoleh uang sebesar 50 juta rupiah. "Tetapi,
uang ini, saya harapkan digunakan pemenang untuk mempromosikan album
mereka. Inilah tantangannya. Jadi, hadiah ini bukan sekadar untuk
kemudian dihabiskan berhura-hura, melainkan untuk kesinambungan kiprah
grup jazz tersebut," ujar Lulu.
Kompetisi
itu, menurut Luluk, didukung penuh oleh Djarum Super Mezzo. "Kita sudah
20 tahun bekerja sama dengan Luluk. Kalau kita bisa bekerja sama selama
ini, itu karena musik yang dibawakan Luluk memang berbeda. Bisa
dinikmati oleh siapa saja," ungkap Senior Brand Manager PT Djarum,
Handojo. "Wah, kalau tidak ada dukungan sponsor, kita memang tidak bisa
jalan," ujar Luluk.
Luluk
mengharap ajang kompetisi ini bakal melahirkan bakat-bakat baru di
dunia musik jazz Indonesia. "Meski pasarnya terbatas, saya berharap jazz
tetap eksis di belantika musik Indonesia," harap Luluk.
Oleh: Eri Anugerah
No comments:
Post a Comment