This blog contains all of the things that I like to share including music, culture, experiences and my articles

Search This Blog

Thursday, June 25, 2020

Idealisme demi Regenerasi Musik 'Jazz'

Sepanjang sejarah musik Indonesia, rekaman musik jazz boleh dibilang tidak pernah ikut dalam gegap gempitanya jualan puluhan atau ratusan ribu keping. Beda dengan jenis musik lain, seperti pop, rock, atau dangdut sekalipun. Di pasar, hanya segelintir album musik jazz terpajang di gerai-gerai toko kaset. Itu pun artisnya dari tahun ke tahun boleh dibilang itu-itu saja.

Kalaupun ada artis atau grup jazz baru, jumlahnya amat minim. Musik jazz boleh dibilang adalah pilihan idealis. Dan, layaknya musik industri, yang idealis begini, alias tidak komersial, memang susah mendapatkan tempat. Kalaupun diberi tempat, ya sedikit saja. Kondisi itulah yang menyebabkan perkembangan musik jazz Indonesia tidaklah terlalu menggembirakan.

Rekaman musik jazz kebanyakan hanya dilakukan dengan jalan indie alias independen. Dan, tentu, peredaran atau distribusinya pun sangatlah terbatas. Regenerasi di musik jazz Indonesia jalan di tempat. Jarang artis jazz muda yang mampu menancapkan eksistensinya di belantika musik Indonesia. Namun, fenomena itu sebenarnya bukanlah gambaran bahwa anak muda sudah tidak banyak lagi yang menyukai musik yang lahir di New Orleans, Amerika Serikat, itu.

"Sebenarnya masih banyak anak muda yang menyukai musik jazz. Bahkan, mereka punya grup dan skill-nya juga bagus-bagus. Sayang, karena tidak ada wadah, potensi mereka tidak kelihatan," ungkap musikus jazz senior Luluk Purwanto dalam perbincangan di Hotel Shantika, Jakarta, beberapa hari silam.

Karena melihat kenyataan itu, ia bersama suami, Rene van Helsdingen, warga Belanda yang juga musikus jazz, menggelar kompetisi untuk menjaring bakat-bakat muda di musik jazz bertajuk Luluk Purwanto & the New Generation 2006, Mezzo Jazz Award. "Ajang ini adalah sebuah penghargaan untuk mempromosikan dan mendorong pemusik jazz muda untuk mengejar impian mereka," ungkap Rene.

Kompetisi itu memang berbeda cara dengan banyak kompetisi musik lainnya. Di sana Luluk memberikan kesempatan kepada para peserta yang terpilih untuk langsung bermain di hadapan publik. "Musisi yang berminat bisa mengirimkan demo musik mereka. Nah, setelah kita dengar satu per satu, lebih dari 50 grup terpilih untuk mengikuti tahap praseleksi dan audisi," ungkap Luluk.

Mereka yang mengikuti audisi langsung mendapatkan kesempatan untuk bermain di depan publik di Hotel Shantika, Jakarta. Saat mereka bermain, juri seperti Luluk dan Rene, juga Benny Mustafa, Benny Likumahua, dan musisi jazz senior lain, mengadakan penilaian.

Ada beberapa kriteria penilaian. Selain skill, urusan harmonisasi, improvisasi, dan interaksi dengan penonton juga penilaian. "Ya, di musik jazz memang harus ada improvisasi, juga kerja sama dengan personel lain. Namun, interaksi terhadap penonton juga penting agar musikus jazz jangan seolah-olah sedang main di studio saja," ungkap Luluk.

Setelah memerhatikan hal tersebut, nilai tidak langsung diberikan. Para musikus usai manggung diajak untuk berdiskusi dengan para juri. "Sebab, di musik itu sebenarnya tidak ada pemenang atau pecundang. Tetapi, mungkin di mata juri masih ada yang kurang, ini disampaikan kepada para peserta. Dan hal tersebut didiskusikan," ungkapnya.

Melalui tahap audisi terpilihlah 14 grup untuk mengikuti tahap kompetisi dalam jazz competition/concert series yang akan diadakan di beberapa tempat di seputaran Jakarta, Depok, Bogor, Tangerang, dan Bekasi. Mereka yang terpilih yakni IGD Yogyakarta, Asteya Trio (Denpasar), DIY (Yogyakarta), Nu-Vintage (Jakarta), Jass Kidding (Bandung), Irsa Harmonia Quattro (Jakarta), Jazzyphonic & Friends (Jakarta), 4A.M. (Bandung), Triad (Tangerang), Quicky (Jakarta), Solvegio (Surabaya) Perfect Fifth (Jakarta), Vishnu Jazz Trio (Surabaya), dan Herzog (Yogyakarta).

Mulai 24 Agustus sampai 11 September mendatang, Luluk Purwanto & the Helsdingen Trio akan mengadakan 16 konser di Jakarta dan sekitarnya (Jabotabek). Rangkaian konser tersebut diadakan di stage bus, sebuah bus yang telah dimodifikasi menjadi sebuah panggung musik. Di bus panggung, Luluk & the Helsdingen Trio memang sudah menjelajah berbagai daerah di Indonesia dan mancanegara.

"Kita pernah bermain di kampus-kampus, bahkan di pesantren. Jadi bus ini memang sudah kita bawa keliling dunia. Bahkan, pernah kita tur di 76 kota di Amerika dengan menjelajah sejauh 50 ribu kilometer," ungkap Luluk.

Menurut Rene, di setiap tempat, mereka akan mengajak satu finalis untuk mempertunjukkan kebolehannya dalam bermain musik jazz. "Di tahap ini, selain kita yang menilai, penonton juga akan kita beri lembar penilaian untuk ikutan memberikan nilai. Meski memang penilaian dari penonton hanya 25%, 75% adalah penilaian juri," ujar Rene. Pada awal 10 September mendatang, 14 finalis akan tampil bersama di London School.

Di sana para finalis akan dinilai musikus-musikus jazz senior. Untuk hadiah, pemenang akan memperoleh uang sebesar 50 juta rupiah. "Tetapi, uang ini, saya harapkan digunakan pemenang untuk mempromosikan album mereka. Inilah tantangannya. Jadi, hadiah ini bukan sekadar untuk kemudian dihabiskan berhura-hura, melainkan untuk kesinambungan kiprah grup jazz tersebut," ujar Lulu.

Kompetisi itu, menurut Luluk, didukung penuh oleh Djarum Super Mezzo. "Kita sudah 20 tahun bekerja sama dengan Luluk. Kalau kita bisa bekerja sama selama ini, itu karena musik yang dibawakan Luluk memang berbeda. Bisa dinikmati oleh siapa saja," ungkap Senior Brand Manager PT Djarum, Handojo. "Wah, kalau tidak ada dukungan sponsor, kita memang tidak bisa jalan," ujar Luluk.

Luluk mengharap ajang kompetisi ini bakal melahirkan bakat-bakat baru di dunia musik jazz Indonesia. "Meski pasarnya terbatas, saya berharap jazz tetap eksis di belantika musik Indonesia," harap Luluk.

Oleh: Eri Anugerah

No comments:

Post a Comment